Diet Mental (ity)

Ada hal yang menarik terjadi hari ini. Bukan, bukan hanya karena kelas selasa saya yang riuh rendah dan penuh dinamika* namun karena ada satu kejadian yang menurut saya, menarik.

Saat saya menikmati secangkir kopi didepan kelas waktu jam istirahat, salah seorang mahasiswa berkata kepada saya: “Lho kok minum kopi… Yah, gak jadi kurus dong!” kata mahasiswa saya sambil menunjuk buku “What Are You Hungry For” tulisan Deepak Chopra yang kebetulan saya bawa.

Saya pun tertawa, dan kejadian itu menginspirasi tulisan ini.

 image

DIET MENTALITY

Setiap kali kita terlihat makan – makanan berkalori tinggi atau makanan yang digolongkan sebagai makanan “dosa” (karena berbagai alasan, entah karena terlalu lezat, terlalu berlemak, terlalu enak, yang jelas dianggap sebagai pengganggu program penurun berat badan), pasti ada saja yang berkomentar: “Kapan kurusnya??!!!”

Bahkan tak perlu menunggu orang berkomentar, pun kita sering mengomentari diri untuk tidak mengkonsumsi ini itu.

Bahkan terkadang, bukan hanya berlaku untuk makanan yang digolongkan dalam makanan “guilty pleasure” , ketika kita sedang berusahan mencapai berat ideal yang kita inginkan, jangankan makanan “dosa” tadi, semua makanan dianggap sebagai musuh. Setiap proses makan adalah kegiatan terlarang.

Tentu sebuah kontradiksi yang menarik, bukankah semua orang butuh makan?

Nah, ketidakharmonisan dengan makanan ini lah yang seringnya justru membuat kita sulit mencapai berat ideal. Kita terlalu membatasi ini dan itu, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Kita terlalu menyerahkan diri pada hal-hal eksternal, dan lupa dengan betapa powerful diri kita sebenarnya.

Maksudnya gimana tuh?

Begini,

Pertama, saat kita memiliki diet mentality seperti diatas, atau terlalu membatasi diri untuk tidak boleh makan ini dan itu, justru yang menjadi penyebab seseorang mengalami overeating. Dari perspektif psikologi, teori restraint mampu menjelaskan ini. Dengan membatasi makanan, mekasnisme pertahanan fisiologis yang muncul justru rasa lapar dan craving pada makanan manis, sehingga justru membuat overeating yang berakibat pada berat badan yang cenderung naik. Kemudian, dengan membatas-batasi makanan ini, tubuh justru akan menghilangkan kontak tubuh dengan rasa lapar dan kenyang (De Vries, 2011).

Kedua,

Padahal, untuk dapat mencapai berat ideal (dan hidup yang menyenangkan), kita harus berdamai dengan semua hal, termasuk makanan dan diri kita sendiri. Siapa sih yang suka dibatasi?

Diri kita adalah resource yang luar biasa untuk mencapai segala cita-cita. Termasuk cita-cita untuk mencapai berat badan ideal. Tidak perlu lagi mengandalkan petunjuk-petunjuk eksternal seperti apa yang boleh dan tidak boleh dan seberapa harus kita makan**. Cukup mengandalkan diri kita sendiri saja. Bukankan rasa lapar itu kita sendiri yang tahu? Namun seringnya kita justru lebih percaya dengan hal lain ketimbang diri ini.

Nah pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana kita tahu kapan kita lapar? Kok rasanya hidup ini sebentar: sebentar-sebentar lapar. 😀 Ini akan saya bahas dalam tulisan selanjutnya yah!

Yang jelas:

Makanlah apa saja yang anda ingingkan, selama anda makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang. OKE? Dan satu lagi yang gak kalah penting:

ENJOY YOUR FOODS!

Cheers,

/katagita

*Setiap selasa, saya mengajar sebuah kelas psikologi dengan mahasiswa berjumlah 62 orang. Kebayang, kan? 😀

** kecuali anda dalam perawatan dokter atau ada implikasi medis tertentu, silakan konsultasikan dengan dokter dan patuhi nasehatnya.

Iklan