dilema gratisan

Pernah gak sih, kalian ditraktir seseorang? Pasti pernah lah ya? Pernah juga kah mentraktir seseorang? Walau keduanya mengandung kata yang sama, namun maknanya jauh berbeda.

DITRAKTIR = pasif

MENTRATKTIR = aktif

Kalau saya sih sering banget ditraktir dan juga tidak jarang mentraktir. Keduanya terkadang melibatkan ciri khas yang sama: diam-diam.

Namun, peran kita sebagai si aktif (mentraktir) dengan peran kita sebagai si pasif (ditraktir) tentu membuat tujuan “diam-diam” ini berbeda. Sebagai si aktif, mengapa diam-diam mungkin supaya proses traktir mentraktir ini tidak melibatkan terlalu banyak orang (mahal, bo!). Sedangkan sebagai si pasif, ini adalah bentuk kepasifan kita dan penghormatan pada yang sudah mentraktir. Sudah bagus ditraktir, masa iya kita merepotkan dengan menambah peserta yang belum tentu sesuai juga dengan kemauan si aktif.

So, sebagai si aktif, kalau memang niat mentraktir, pastikan bahwa tidak ada pihak yang menjadi kisruh gegara tidak kalian traktir. Semakin banyak yang ditraktir, bahkan semua yang kamu kenal (atau setidaknya yang berasal dari kelompok yang sama), semakin baik.

Sebagai si pasif, pastikan bahwa kalian sudah berbuat sesuai etika: tidak mengundang pihak lain tanpa sepengetahuan di pentraktir. Ini tidak mudah, karena biasanya kekita kita mendapatkan rezeki gratisan, kita ingin mengajak orang lain pula.

Dan sebagai yang tidak ditraktir, anggap saja kalian tidak beruntung. Masih ada lain kesempatan. Jangan pernah marah dengan si pasif andaikan mereka diam-diam mendapat traktiran. Karena jauh dilubuk hati mereka, mereka pasti ingin mengajak kalian. Tapi apa daya…

Oke sekian posting #random kali ini.

jika kita bertemu maka itu baik, jika tidak maka tidak apa-apa.

-penggalan doa gestalt

salam,

/katagita

Iklan