kapan makan?

Hari ini dan kemarin saya terlibat dalam sebuah training. Ada yang masukan menarik dari peserta: supaya jam makan siang dapat diajukan. Jam 13:00 dirasa terlalu lama untuk menahan lapar, membuat tidak bisa berpikir (walo diruangan disediakan coffe break lengkap dengan kue-kue yang free flow, boleh kapan saja diambil dan dinikmati). Alasannya karena biasanya, di unit peserta tersebut bekerja, jam makan siang adalah 11:30, sehingga pukul 13:00 is the way too late. Ini juga diamini oleh beberapa peserta.

Pagi ini pun demikian, ketika aturan istirahat ini kami umumkan, bahwa dengan mempertimbangkan masukan kemarin maka akan kami ubah jadwal istirahat makan siangnya menjadi lebih awal, peserta yang lain pun berseloroh bahwa diunitnya, jam makan siang adalah 12:00 atau kapanpun, tergantung ketersediaan makanan.

Mendengar kedua hal tersebut membuat saya yang in love dengan persoalan eating behavior senyum-senyum sendiri. Ini pula yang mendorong saya untuk menulis artikel ini.

Kapan Makan?

Saya pengen tanya, apakah peserta training tersebut mewakili teman-teman semua? Merasa butuh makan karena sudah jam biasanya makan, atau karena makanan sudah tersedia?

Pertanyaan saya selanjutnya, sebenarnya tujuan makan apa sih? Oke, menghilangkan lapar. (ini jawaban dari peserta training, saya pun setuju).

Dari kedua pertanyaan diatas. Apakah ada yang dirasa ganjil atau tidak nyambung?

Yess.

Makan itu dilakukan/diperlukan untuk menghilangkan lapar. Lapar itu terjadi di perut. Tetapi biasanya kapan kita merasa laparKetika jam 12. Ketika makanan datang. Ketika yang lain sudah mulai makan. Ketika dari pagi kita belum makan. Ketika ada yang memberi makanan. Hohohohohohooooooo

oke, next

  • Apakah pernah teman-teman makan karena lapar? Hmm oke, saya spesifikan lagi.
  • Apakah teman-teman lapar karena memang lapar dan bukan karena sudah jamnya, karena makanan sudah datang, karena yang lain juga sudah makan… dst?
  • Apakah teman-teman lapar karena perut terasa keroncongan? atau perut keroncongan karena yang lain sudah pada makan?
  • Lapar apa lapar?
  • Lapar mata apa lapar hati?
  • Lapar fisik apa lapar emosi ?
  • Monggo silakan direnungkan. Direfleksikan.

Hahaha, mau makan saja kok repot. Makan ya makan saja ya? Tinggal, Lep! kata salah satu iklan sosis.

Hehehe, ini soal pilihan yang baik kok temen-temen. Kalau saya sih berpegang pada hukum matematika (atau ekonomi ya? )sederhana.

Jika yang saya butuhkan lebih dari yang saya dapatkan, ya kelebihan. Atau sebaliknya. Yang paling pas ya supply=demand.

Demandnya orang makan adalah rasa lapar fisik, dan supplynya adalah makanan (sebanyak yang dapat membuat rasa lapar hilang). Kalau kelebihan? Ya terjadi penyakit. Ho hooo

Sederhana aja sebenarnya.

Kita aja yang sukanya bikin repot dengan berbagai dalih dan alasan, hehehehe… (Iya ya, belum lagi dengan alasan “mumpung ditraktir” “all you can eat broo” “kebersamaan” “menghargai” dll)

Nah, tapi, andaikan teman-teman ingin menjadikan acara makan ini karena didasari sesuatu yang benar (yakni rasa lapar) dan bukan yang lain-lain, berikut tips mengenali rasa lapar (yang entah mengapa suka susah kita kenali dengan benar dan suka salah duga dengan hal lain), berikut:

tips mengenali LAPAR. LAPAR FISIK = THE TRULLY LAPAR .

  1. Terjadi dibawah kerongkongan. Bukan diatas kerongkongan… kalau mendadak lapar karena lihat tampilan yang menggodaaaa… Hmmm……. *titiktitik (silakan diisi sendiri)
  2. Terjadi tidak tiba-tiba. Beberapa jam setelah kita makan sebelumnya. Kalau lapar ini datangnya random… well.. well… 
  3. Hilang ketika kita sudah makan. Jika sudah makan kok masih pengen ini, itu, emm….. 
  4. Habis makan rasanya senang dan puas. Jika itu lapar semu,, biasanya kita justru merasa bersalah…. 

WOKE DEEEHH… SELAMAT MAKAN!!! SMAKELIJK ETEN! BON APETITE!

/katagita

Iklan