Ribut-ribut lapar

Kenapa sih saya selalu ribut soal “LAPAR”?

Toh semua orang juga tau apa itu LAPAR.

Toh semua orang juga punya apa itu yang disebut LAPAR.

NAH!

Justru karena itu, melalui tulisan, melalui pertemuan-pertemuan, lapar ini selalu saya singgung-singgung. Kenapa? karena walaupun semua orang punya, tidak semua menggunakannya dengan baik.

Coba ingat-ingat, “Berapa kali dari waktu makan anda yang disebabkan karena LAPAR?” Atau mungkin bahkan pertanyaan yang lebih ekstrim, “Kapan terakhir kali anda merasa lapar?

Beruntunglah kita yang masih merasakan lapar dan rasa inilah yang membuat kita memutuskan untuk makan. Namun sayangnya, banyak diantara kita yang tidak sempat merasa lapar, namun terus saja makan. Mungkin karena situasi dan kondisi yang membuat seperti itu (misalnya saja dalam sehari mendapat jatah makanan yang tiada henti dari mulai snack meeting hingga jatah nasi dan undangan makan yang terus menghampiri). Atau karena diri yang membuat lapar tidak pernah datang menghinggapi (baik itu karena mulut yang gak pernah diistirahatkan untuk mengunyah, atau kondisi sebaliknya: terlalu sibuk hingga mengabaikan rasa lapar yang sebenarnya sudah menampakkan diri).

Padahal, makan, adalah motif dan mekanisme dasar manusia untuk bertahan hidup. Jika ini sudah menjauh atau abai, bagaimana hidup ini akan berlanjut? Ohooo..

Yasudah, saya lapar, nih! Makan, dulu, yuk!

(dan ingat, berhenti makan sebelum kenyang, plus makan dengan sadar, ya!)

 

Cheers,

 

/katagita

 

 

Iklan