Baca ini sebelum memutuskan untuk terus-terusan emotional eating

Jadi, menurut kamu susah, lepas dari jeratan emotional eating? Apalagi jika sudah urusannya dengan cinta. Dengan hati. ❤.

Hihihi.

Ya, ya, sebenarnya, bukan sepenuhnya salah kita juga ketika kita gundah gulana kemudian lari ke makan. Ada sebuah kajian tentang stress dan makan yang menjelaskan pola ini.

reward based stress eating

from: T.C. Adam, E.S. Epel / Physiology & behavior 91 (2007) 449-458

Stress yang kronis, memicu paparan kortisol yang lebih besar. Ini sebenarnya adalah bukti kebesaran Tuhan, supaya orang dapat bereaksi cepat dan efektif dalam mengatasi tekanan saat itu. Nah, ini berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap sistem reward di otak. Secara langsung… Kalau kita stress dan tertekan kita pasti mencari pelarian, pengaduan, sesuatu yg membantu kita mengatasi rasa gak enak itu dong….

Secara ga langsung, kortisol yang dilepaskan tadi memicu keluarnya insulin, leptin, dan sistem npy, yang membuat otak merasa lapar, daaan inginnya makan makanan yg tinggi gula dan lemak. Nah, ini adalah bentuk reward atas stress kita tadi, alias pelipur lara.

Jadi memang tidak sepenuhnya salah yang kita sengaja ketika kita galau dan lari ke makan. Hanya saja, kita kan pemilik tubuh dan pikiran. Take charge, dong! Konon kita lebih kuat dan hebat dari yang kita tau, lho! Bisa dibayangkan bagaimana jika hal ini terjadi berulang ulang? Saya me-list setidaknya ada lima hal:

Pertama,

Berat badan kita semakin naik.

Kedua,

Keadaan kesehatan kita pasti terganggu… Orang stress kecenderungannya mengkonsumsi makan tinggi gula dan lemak. Padahal… (silakan cari sendiri akibat dari gula dan lemak yang terlalu tinggi)

Ketiga,

Secara kognitif kita jadi enggak smart. Mood and foods pun menjadi satu paket. Kita jadi terus-terusan bego, melihat mereka sebagai teman yang saling menolong padahal gak ada hubungannya.

Keempat,

Masalah yang dihadapi akan tetap ada.

Kelima

SUDAH MASALAH TETEP ADA, MUKA MUNGKIN TETEP AJA PAS-PAS-AN, KITA JADI MAKIN GAK PERCAYA DIRI KARENA KELEBIHAN BERAT BADAN DAN MERASA LEMAH TAK BERDAYA. Kalau sudah begini, kita pun dalam terjerat dalam lingkaran setan yang tiada hentinya. Pertanyaannya, mau sampai kapan? Hidup kan enggak lama…

 

Oke deh, selamat memikirkannya, ya. Semoga jadi bahan renungan yang baik di hari minggu ini.

 

LOVE!

/katagita

Iklan