Cinta (yeelah)

Hoho, tema ini agak menyimpang dari tema makan.. walau kalau dirunut akan ada hubungannya juga (misalnya jadi emotional eating). Tetiba saja saya ingin menulis soal cinta-cintaan ini. Mungkin karena mendekati valentine day, atau dasarnya saya tukang galau. Ha ha ha ha…

Dahulu kala saya tidak percaya bahwa cinta itu ada. Ya, cinta antar lawan jenis yang saya maksudkan. Antara pria dan wanita tanpa hubungan darah. Bagi saya, yang ada hanyalah segala bentuk konstruksi, baik konstruksi diri maupun konstruksi sosial. Mengapa? Karena no body is perfect, padahal yang namanya cinta itu adalah kesempurnaan. Jadi, kalau pun ada seseorang yang sempurna bagi kita, ya itu adalah usaha kita sendiri menjadikannya seperti itu, dengan cara mengkonstruksi pikiran kita sendiri, atau karena konstruksi sosial yang mengharuskan kita menjadikan dia yang sempurna.

Sampai akhirnya saya mengalami ke-“terpukau”-an, meminjam judul lagu Astrid yang dengan indahnya menggambarkan makna dari kata ini. Terpukau, menemukan kesempurnaan pada dirinya, dan diri saya sendiri bersamanya.

Ternyata yang saya anggap tidak mungkin tanpa usaha (konstruksi) ternyata terjadi! Saya bertemu dengan seseorang yang… entah mengapa bagi saya sosok yang sempurna. Berkali kali saya mencoba merasionalkan diri atas penyimpangan prinsip yang saya alami ini. Sehingga saya mencoba membuat “list kekurangan” dia. Awalnya yaa.. tidak ada.. Hahahaha. Namun, saya paksa diri saya untuk tidak dibutakan cinta seperti anak remaja. In hale, ex hale, yes, ternyata si dia ada juga kok kurangnya. Gak begitu romantis, bukan dia yang suka menghujani dengan kata-kata manis, sibuknya ampun-ampunan, bla, bla, bla… yang yaa.. lumayan lah. Tetapi apakah kemudian patah label kesempurnaan saya kepada dia ???(seperti yang sudah-sudah. That’s why i didn’t believe such love does exist).

NOPE. NOT AT ALL.

Bagi saya dia tetap sosok yang sempurna. “Baiklah, resmi sudah saya jatuh cinta”, kata saya.Karena, baik dengan kacamata lama saya (bahwa cinta itu dikonstruksi) atau dengan apa yang terjadi pada saya sekarang ini, dua-dua nya membawa saya pada simpulan bahwa: lelaki sempurna buat saya itu ada.

Namun, jatuh cinta itu sama dengan hukum jatuh yang lain. SAKIT. Hmm, mungkin ini pula penjelasan dibalik ketidakpercayaan saya atas cinta yang tidak dikonstruksi. Andaikan, cinta itu hasil konstruksi, jikalau terjadi sesuatu, katakanlah bertepuk sebelah tangan (duh!) maka dengan mudah kita konstruksi ulang, atau hancurkan saja seolah tidak pernah ada. Lah kalau tanpa syarat begini, tanpa usaha, tiba-tiba muncul! Kalau sampai….. (duh)…..  *gakberaningelanjutin.

I do believe in God. Jadi, yasudah lah ya, cinta kan datangnya dari Tuhan, kita serahkan saja bagaimana episode-episode selanjutnya cinta-cintaan ini. “Gitu aja kok repot!”, kata Gus Dur.

Oke, selamat Valentine-valentine-an. Berhari kasih sayang-an (walo bagi saya hari kasih sayang yang setiap hari, bukan ditanggal tertentu).

#He Knows Best.

IMG_1547

 

Iklan