sebuah judul klasik: emotional eating

Dimusim hujan begini, cuaca sering berawan, hati seringkali dihinggapi dengan kenangan para mantan. AHahahahai, kekinian sekali ya.

Yang jelas, saya sendiri akhir-akhir ini mengalami siklus naek turun dengan makanan. Mulai dari tidak doyan makan sama sekali karena memang tidak lapar, hingga saat ini: sangat doyan makan.

Sebagai peneliti dan penggiat dalam topik perilaku makan, tentunya ini membuat saya semakin merasa tidak karu-karuan. Masa iya, saya yang hobinya woro-woro soal kebiasaan makan, terjebak dalam permasalahan yang sama? Campur-campur perasaan ini tentu membuat saya semakin tidak karuan, dan justru terjebak lebih dalam dalam jeratan EMOTIONAL EATING. rrrrrrrrrrrrrrrrr………….

Jadi sebenarnya, apa sih yang membuat kita terjerat emotional eating? Dari web psychologytoday.com , menyebutkan 5 hal yang membuat kita susah berhenti emotional eating, yakni:

  1. Gak sadar mengapa makan. Seringkali kita makan tanpa kita sadari alasan kita makan. Sering juga kita makan, tanpa menyadari benar bahwa kita sedang makan. Tau-tau makaaan… aja. Tau-tau habissss aja.
  2. Makan sebagai satu-satunya kesenangan. Kebanyakan orang kebanyakan makan, ngemil, jajan, karena gak ngerti lagi musti ngapain kalau tidak makan. Niat jalan-jalan, yang dituju tempat makan. Dirumah mau santai-santai, ujungnya ngemil. “Habis.. gak ngerti lagi musti ngapain kalau gak makan!”
  3. Gak mampu menghadapi “RASA GAK ENAK”. Hmm, siapa sih yang mau galau? Siapa sih yang mau ngerasain sedih? kecewa? marah? dan segala macam rasa gak enak yang disebabkan oleh apapun… Nah, kadang kala kita merasa dunia sudah berakhir ketika kita mengalami rasa-rasa gak enak tersebut. Mentok. Helpless. Hopeless. Gak berdaya. Dan makan adalah satu-satunya hal yang mampu membuat kita merasa berdaya dan berkuasa.
  4. Sebal dengan bentuk badan. Hlo bukankah kalo kita tidak suka justru bikin kita termotivasi supaya kita suka? Wow, ternyata tidak selalu yah. Justru ketika kita sebal dengan bentuk badan kita, justru bikin kita makin terjerat dengan emotional eating. Ketika kita sebal dengan bentuk badan kita, kemudian kita berolah raga atau menurunkan berat badan mati-matian, niatnya jadi negatif. BAalas dendam. Pembuktian. Bla bla. Memang sih goalnya adalah: bentuk badan menjadi lebih baik. NAamun, jika diawali dengan kemarahan atau kesedihan, atau  yang ada adalah… tidak pernah ada puasnya. Plus, justru jadi bumerang yang membuat kita jadi emotional eating. Hmm mekanismenya gimana, lain waktu ya dijelasin lagi.
  5. Faktor fisiologis. Kita sering mengabaikan keadaan tubuh kita sendiri. membiarkan kita terlalu lapar dan terlalu capek, justru meningkatkan resiko kita terjerat emotional eating. Ya mendingan, makan ketika lapar dan jangan ditahan-tahan.. and get enough SLEEP and REST, honey….

Baiklah, baiklah. Coba saya kontemplasikan dulu ya. Nanti saya sambung lagi. Juga saya ceritakan apa yang  terjadi.

Mendadak  #baper nih. Maklum, jumat malam. Aura kerinduan pun mulai menusuk tajam. #eaaaa

/katagita

Iklan