mundur untuk maju

Lagi-lagi ini adalah repost-an tulisan lama saya. Bukan hanya karena gak bisa move on lho, lantas posting yang udah-udah #curcol. Kebetulan, saya sedang dikejar beberapa deadline yang mendadak muncul. Hasilnya…. saya kok ngerasa blunder. Nah, ditengah keblunderan itu saya inget postingan ini. Kayaknya kok pas banget… 

————————————————————————

“Yawis, santai dulu, ngenggar-enggar penggalih dulu, gih, ” kata seorang teman senior waktu saya panik dirundung suatu persoalan dan harus membuat keputusan.

Ngenggar enggar penggalih, asalnya dari bahasa Jawa, yang maksud dan artinya secara berat dijelaskan disini:

Yakni berfikir secara intutif, dalam terminologi Jawa dikenal sebagai makna dalam ungkapan menggalih (analisa menggunakan rasa).Dalam suasana yang rumit atau saat menghadapi suatu persoalan berat, orang Jawa sering mengatakan, akan melakukan ngenggar-enggar penggalih. Sebagai sebuah cara yang akan meningkatkan kesadaran aku kepada kesadaran pribadi.Kesadaran aku atau kesadaran rasa sejati tidak bersifat statis tetapi dapat berubah dinamis apabila diri kita melakukan upaya-upaya peningkatan kesadaran. (sumber: blog ini)

atau, gampangnya pengertian dari ngenggar-enggar penggalih sepengetahuan saya adalah: untuk sesaat meletakkan persoalan untuk sejenak, enggak sepaneng memikirkan permasalahan satu itu saja, tapi merilekskan pikiran, sesaat, sehingga ketika kita kembali, pikiran jadi lebih jernih, dan bisa melihat persoalan yang mendera dengan lebih tenang, dan harapannya, bisa mendapatkan solusi dan membuat keputusan yang tepat.

Iyess,, persoalan, masalah,  adalah makanan kita sehari-hari. Udah jelas lagi buru-buru, eh, jalanan malah macet gara-gara ada truk mogok. Lagi butuh banget duit, eh, malah harus ngeluarin uang ekstra karena sakit. dan huauauauauauauaua,,, (ini adalah respon tulis saya setiap menghadapi kesulitan😀 )

Nah, saya sih disini bukannya akan menulis tips bagaimana memberantas atau bebas masalah dalam sejam, atau, bagaimana mengatasi masalah tanpa masalah (kalau ini sih kepegadaian saja, hehe). Tetapi tentang bagaimana sikap hidup yang selama diajarkan kepada saya sebagai seorang Jawa ketika menghadapi persoalan, seperti halnya yang dikatakan oleh senior saya: yakni untuk ngenggar-enggar penggalih. Etapi bukan pula ingin membahas ngenggar enggar penggalih dan filosofinya. Terlalu berat dan dalam buat saya yang cuma bocah kemaren sore -ngeles-.

Yang saya ingin curahkan adalah, ketakjuban saya dengan local wisdom mengenai ngenggar-enggar penggalih ini, yang notabene keberadannya sudah sejak jaman simbah-simbah kita dulu. Kalau dilihat dari perkembangan ilmu di luarnegri sono, kayaknya baru tahun 1935 simbah Lewin melalui field theory-nya, memperkenalkan konsep yang nyaris sama dengan ngenggar-enggar penggalih dari simbah-simbah kita itu.

Jadi, kata Lewin, masalah, halangan (obstacles, red), secara harafiah adalah yang nutupi kita dari A menuju B. Ada dua cara jika kita menghadapi situasi seperti ini: kabur atau menghadapi masalah yang ada. Nah, selanjutnya, dengan menghadapi masalah ini, solusi akan tercapai setelah kita merestrukturisasi kejadian yang kita hadapi ini. Melihatnya menjadi lebih global, gak sepaneng dengan masalahnya dowang. Sehingga, kita mulai mampu melihat dan memetakan apa sih masalahnya, goal yang mau kita capai apa, dan kita berada diposisi mana. Lebih lanjut, kata Lewin, pandangan holistik semacam itu  membuat kita menjadi lebih berjarak dengan masalah yang kita hadapi sehingga mampu melepaskan diri dari tekanan, namun tetap dengan tidak keluar dari situasi yang kita hadapi. Dengan demikian, kita mampu melihat dengan jernih, dan memecahkan masalah dengan tepat.

Nah, kan, kalo dirasa-rasa, konsep ngenggar-enggar penggalih dan field theory Lewin dan holistic viewnya ini mirip banget kan ya.. Iya gak? Bangga gak sih, bahwa sebenarnya kita ini sejatinya kaya akan pengetahuan dan kebijaksanaa? Hanya sayangnya memang, eksplorasi akan hal ini disini sangat kurang. Bahkan kayak saya, baru ngeh setelah kenal dengan yang lain-lain. Semacam: tergoda dengan orang lain yang lebih keren, tapi pada akhirnya menyadari bahwa ternyata dia yang kita  hadapi itu sudah baik buat kita.  (Hahaha, teteeep, dihubung-hubungkannya dengan masalah cinta)

(tetapi justru disitu kan, letak “kemanusiaan” nya. Tanpa proses belajar semacam ini, robot dong, kita? )

Nah, nah nya lagi, kok ya,, lagi-lagi, londo lagi yang kemudian masih penasaran tentang “kebijaksanaan” ini. Ada sebuah jurnal yang rupanya meneruskan hasil pemikiran simbah Lewin dengan lebih detil dan seksama. Sebut saja Marguc dan kawan-kawannya dari universitas di Amsteram sana (2011), yang ngoprak-oprak tentang topik yang sama. (Well, yeah, bagaimanapun, obstacle, adalah topik menarik dan gak akan pernah ada matinya. Ya gak?)

Dan, dan, hasilnya ya masih tetap sama, lho. Lagi mumet ngadepin masalah? Monggo ngenggar-enggar penggalih dulu, sits, bro. Karena menurut hasil penelitian yang judulnya “Stepping Back to See the Big Picture”:

obstacles may prompt people to broaden their perception and think in a more integrative, open-minded way that influences how they solve completely unrelated tasks.(Marguc, Förster, and Van Kleef, 2011.)

Nah kan? (makanya, manut sama simbah dan ibuuuk…😀 )

So, to sum up,,,

  1. Kita harus bangga dan lebih banyak lagi mengeksplorasi local wisdom asli indonesia (manut dan mengamalkan juga kaliya?) Banyak benernya. Suer. Walopun dulu (dan sampe sekarang) saya juga masih suka ngeyel, kata saya: “ah itu kan cuma digothakgathukmathuk!” (nah lo, apa lagituh,,,😀 ). Intinya, saya ngeyel aja. Kalo sudah dibikin scientific, nah, baru manut. hehe.
  2. Bahkan londo pun mengamini, bahwa disetiap kejadian, permasalahan, itu ada hikmahnya.
  3. Sekali lagi, bahwa :

Bingung untuk diurai.Sukar untuk dipecahkan. Sulit untuk dihadapi. dan hidup, ya, untuk dijalani.

Tanpa itu semua, ya gak kan  naek kelas kita….! (karena didalam penelitian tersebut juga dicantumkan S&Knya: hanya buat mereka yang bertahan dalam situasi sulit tersebut, alias gak kabur. Hehehehee)

Jadi?


IMG_9440

Hmm… kayaknya saya harus ngenggar – enggar penggalih dulu nih supaya idenya muncul, enggak mejen alias mampet. Ngopi dulu kaliya? Eh tapi kan deadline 2 hari lagi? ahahahaha….  *tepokjidattepoktepok

/katagita

Iklan