hijrah-pelajaran yang sama dari Guru Bangsa

P1030018

Wow sudah sangat lama ya saya tidak menulis diblog ini. Apakabar semua? Mumpung masih syawal, saya ingin mengucapkan: Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah menerima segala amal ibadah kita dan kita dipertemukan lagi dengan ramadhan tahun depan. 

Nah, berhubung masih syawal pula, saya ingin menulis tentang sesuatu yang berhubungan dengan hijrah. Kenapa hijrah, karena ramadhan telah membawa saya berpindah kah? Dari Jakarta ke Jogja lalu ke Jakarta lagi? (Hehehe, itu sih mudik namanya.) Emm, anyway begini…

Hijrah diartikan sebagai perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain yang lebih baik dengan alasan tertentu. Pada zaman nabi, hijrah adalah perpindahan Nabi Muhammad saw. bersama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Medinah untuk menyelamatkan diri dan sebagainya dari tekanan kaum kafir Quraisy, Mekah.

Nah, kata hijrah kemudian membawa ingatan saya pada sebuah film. Masih ada yang ingat film  Guru Bangsa: Tjokroaminoto, kah? Berkali-kali pak Tjokro menyebutkan kata hijrah dalam adegan-adegan selama kehidupannya, dalam berbagai setting. Mungkin bisa disimpulkan, hijrah  dalam film tersebut  dapat dimaknai sebagai perubahan, perubahan bangsa Indonesia menjadi lebih baik.

Semesta mendukung dan terhubung.

Syawal, kata hijrah yang pada akhirnya mengingatkan pada sosok guru bangsa: Tjokroaminoto. Nah, gegara itu saya jadi googling tentang pak Tjokroaminoto. Ternyata, selain ajarannya: SETINGGI-TINGGINYA ILMU,  SEPANDAI-PANDAINYA SIASAT DAN SEMURNI-MURNINYA TAUHID, ada juga nilai  yang  ditinggalkan oleh beliau yang sangat menggelitik hati dan pikiran saya, yang menggerakkan tangan ini untuk menulis.

Tentang apakah itu? Tentang pengendalian nafsu. Hmm, oke. But you know what, yang membuat saya tertarik dan tergelitik adalah pelajaran tentang pengendalian nafsu berhubungan dengan minat saya selama ini: soal eating behavior.  Wasiat nilai  ini disampaikan Pak Tjokro melalui bahasa  yang sangat sederhana kepada anak-anaknya, sebelum beliau wafat. Jadi begini, konon, dimasa sakitnya, beliau berulang-ulang menyampaikan pesan kepada anak-anaknya supaya “Lereno mangan sa’durunge wareg !” yang artinya adalah “berhenti makan sebelum kenyang”.

Nah terus apa istimewanya? Apakah karena ternyata pak Tojkro in the same boat sama saya soal eating behavior? Hehehee,,,

Nah… Jadi gini, walaupun terdengar hanya seperti kata-kata yang sering saya ucapkan dan tuliskan di blog ini, rupanya wasiat pak Tjokro ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekedar mempraktekkan makan sadar untuk tujuan kesehatan. Yap, berhenti makan sebelum kenyang akan membantu diri kita mengendalikan nafsu dan melatih hati kita. Bagaimana kita mengendalikan keinginan, mengarahkannya pada hal yang baik sehingga membantu kita menjadi orang yang kuat.

Mengapa? Karena walau terkesan sepele, berhenti makan sebelum kenyang itu adalah sesuatu yang sangat sulit untuk diterapkan. Berhenti makan, saat perut kita masih belum kenyang. Berhenti makan, saat didepan kita mungkin masih tersaji makanan yang nikmat. Berhenti makan, padahal tidak ada yang melarang. Kurang berat apa coba? Belum kenyang, masih banyak makanan, dan tidak ada yang melarang? Hmmm.

Namun ternyata, jika kita menjadikan ini sebagai kebiasaan, tidak hanya berat badan dan kesehatan yang terjaga. Namun juga hati kita pun terlatih. Terlatih untuk bersabar, terlatih untuk mengendalikan diri…

Maka nikmat mana lagi yang kamu dustakan?

Jakarta Barat, 26 Juli 2016

/katagita

Iklan