KEPO CANTIK

Gara-gara LINE today, saya jadi tahu singkatan KEPO adalah Knowing Every Particularly Object (jadi bukan KElakuan POlisi, ya 😀 ).

Pada perkara yang lain, gara-gara  seorang teman, saya jadi memikirkan ulang tentang bagaimana saya harus menetapkan fokus dan strategi atas area ekspertis dimasa depan. Bagaimanapun saat ini saya sudah berpijak disawah ini, memang enggak ada salahnya sesekali menggarap ladang, tapi sawahnya juga musti digarap kan?

Anyway, daripada saya main analogy nggak jelas dan ujung-ujungnya curhat, saya pun akan mencoba mengarahkan tulisan ini supaya memiliki hubungan dengan dua cerita tersebut. YEs, tentang KEPO dan PIO (psikologi industri dan organisasi).

WOT?

Iya. Kalo kamu anaknya kepo-an, cocok juga kok untuk masuk ke dunia PIO atau oke let’s be spesific: dunia  per- Human Resource– an.  Seperti kita tau, perkembangan teknologi informasi, yang awalnya cuma taunya mirc (asl, pls.. :D), sekarang kita mengenal begitu banyak media sosial yang bisa kita gunakan untuk terkoneksi dan menjadi tetap eksis.

Banyak kasus yang tidak menyenangkan terjadi gara-gara sosial media ini   yang menyebabkan terjadinya kerugian perusahaan yang tidak kecil. Namun, keberadaan sosial ini juga membawa pengaruh baik juga, misalnya memperkuat branding perusahaan. Yang jelas, HR memiliki peran penting agar perusahaan mendapat nilai maksimal dari keberadaan sosial media ini.

Salah satunya adalah, memanfaatkan media sosial untuk proses rekrutmen. Yap. Coba sekarang ya, siapa yang dari kita tidak memiliki facebook, twitter, path, instagram, atau yang lebih serius dikit seperti linkedin? Sebagai rekruiter tentulah data dari berbagai sosial media ini ingin kita manfaatkan dan jadikan bahan pertimbangan, bukan? Biar kita gak kewowogen  (overload) mengingat medsos ada banyak, plus, karena tidak semua orang melihat media sosial itu ada hubungannya dengan pekerjaan (sehingga banyak nyampah)c ada beberapa tips sederhana supaya kita bisa KEPO dengan cantik dan yang lebih penting: tujuan tercapai (ga cm buang waktu!).

Apakah itu? Lima saja, tambah sendiri kalau kurang.

  1. Jawab pertanyaan ini: Apa tujuan kamu ngepoin kandidat melalui social media-nya? Apakah untuk melihat latar belakangnya? Pengen tau gaya menulisnya? Atau ingin tau apakah orang ini nantinya akan fit dengan organisasi kamu? Nah kalo ini sudah dijawab, kamu akan dapat menentukan social media mana yang pantas dikepoin.
  2. Pahami konteks. Misalnya, untuk posisi apa anda ngepoin orang ini. Jika misalnya yang dikepoin adalah untuk posisi marketing yang sudah cukup tinggi, maka kita pengen tahu bagaimana gaya komunikasi dia dengan klien selama ini. Jadi, kalo dalam kasus ini, ngepoin beberapa medsosnya tidak jadi masalah, walaupun tidak menutup kemungkinan kamu akan menemukan beberapa hal yang tidak relevan juga.
  3. Pertimbangkan social media footprint mereka dengan hari-hati. Punya linkedin belum tentu dia seprofesional itu. Bisa jadi dia gak paham manfaat, setting, dan etik dari linkedin. Jangan gampang percaya dan terbuai, serta tetap kritis dan teliti ya. Bisa jadi ada juga mereka yang sudah sadar tentang kegunaan media sosial secara positif sehingga banyak digunakan untuk hal-hal yang membantu branding mereka. Plus, perlakukan dengan hati-hati mereka yang “jejak medsos”-nya sedikit. Hmm (saya jadi ingat siapa gitu :D)
  4. Bangun kepercayaan terlebih dahulu saat mencoba bicara / berkomunikasi dengan mereka. Kepo ya kepo tapi yo ojo ngono. Ketika kepercayan terbangun, kita jadi lebih mudah kan menggali-gali hal yang ingin kita gali dari kandidat tersebut?
  5. Rumus sederhana: lakukan seperti apa yang kamu ingin orang lain lakukan padamu. Ini adalah ajian klasik yang tak kenal waktu ketika kamu sedang kepo dan galau musti gimana. Yang jelas, jangan sampai kandidat yang potensial jadi jauh gara-gara kamu salah strategi saat kepo.

 

Woke deh, tips diatas sebenarnya dipersembahkan oleh buku “Modern HR for Dummy”, jadi kalo tertarik sok cus aja baca sendiri biar lebih jelas. Tapi yang jelas, saya yakin, beberapa tips sederhana diatas bisa dimanfaatkan untuk kepo cantik or let’s say, kepo without being creepy.

 

Selamat malam,

 

/anggita

stopkepo

Iklan