EMOSIONAAAAL!

kecerdasan20emosional20apa20itu20kecerdasan20emosional20ciri20orang20mempunyai20kecerdasan20emosional1

Gegara tulisan saya tentang kepo, ada seorang teman yang kemudian menanyakan, apakah saya menulis tema tersebut karena sedang kepo dengan seseorang. Sebenarnya sih jujur banget, inspirasi tulisannya datang dari line today seperti yang sudah saya ceritakan, yang kebetulan membahas soal singkatan kata yang selama ini kita pakai namun kita belum tentu tau. Salah satunya ya si KEPO tadi.

Namun demikian, agak jujur (kalo tadi kan saya jujur banget, yang ini agak saja :p ), yes, kepo memang sedang menjadi trending topik didunia saya beserta sahabat perempuan. [Pssstt,  when Indonesian mention KEPO, it  means you were stalking someone. Hahahahahahah]. But I swear sejatinya bukan itu alasan utamanya. Tapi demi menyenangkan teman yang semi nuduh tersebut, dengan asal saya bilang: iya lah, cewek kan emosional! [BRRRRR…. saya dan temen saya kok diam-diam gender stereotype bingits!]

Gak perlu marah ding, stereotype gak selalu jelek lagi! Bahkan kenapa ada stereotype sebenarnya adalah cara kita menyederhanakan dunia yang komplikated ini. Bayangkan kalau setiap objek perlu dipikirkan dengan detil a-z nya, bisa-bisa kita gilak usia muda. Nah, dengan stereotype sebenernya kita sedang mencoba mempersingkat, dengan memberikan label-label tertentu. Jadi stereotype ini dapat membantu kita memahami lingkungan dan situasi dengan lebih cepat. [Mudeng gak? Kalau bingung, silakan ambil jurusan psikologi khususnya psikologi sosial, biar lebih paham :D] Nah, yang perlu diperhatikan adalah bahwa tidak selalu stereotype itu benar. 

Kembali lagi soal bahwa cewek itu emosional, hmm, yang ini memang tends to be true. Tend ya, i won’t say it’s 100% true. Term and condition applied, wakakakaka. Dalam berbelanja, ya memang, perempuan lebih dipengaruhi oleh mood daripada laki-laki. Kalau lagi kalap, badmood,… yak selamat (ini ngejelasin kan, kenapa di toko, rak baju perempuan luasnya 5x rak pakaian laki-laki 😀 ). Selain itu, yang saya sendiri pernah membuktikan secara scientific adalah ketika berhubungan dengan makan, perempuan indeed lebih emotional eating dibanding laki-laki. Bhuuuuuuuuhh!!

Yap, bersama mahasiswa saya yang cantik bernama ufay, dengan penelitian menggunakan metode kuantitatif yang bertujuan untuk melihat perbedaan antar dua kelompok (laki-laki dan perempuan), hasilnya mengatakan demikian. Secara signifikan perempuan memiliki tingkat emotional eating yang lebih tinggi. Artinya,  keadaan emosi tertentu seperti cemas, marah, sedih menghadirkan dorongan untuk makan yang lebih tinggi pada perempuan dibanding pada laki-laki. Namun demikian, baik-pada perempuan maupun laki-laki, situasi cemas menghadirkan dorongan yang sama kuatnya untuk makan.

Oke, jadi, gimana? menurut kamu stereotype bahwa perempuan itu lebih emosional dibanding laki-laki, bener gak?

/katagita

Iklan