disonansi kognitif

Pagi tadi, saya tetiba mendapatkan pertanyaan tentang “disonansi kognitif”. Kata ini sering saya gunakan, apalagi ketika mengkata-katai masyarakat Jakarta. Kenapa? misalnya saja soal lalu lintas. Jakarta ini semrawuuut sekali. Coba lihat kalo pas lampu merah. lampu merahnya dimana, berhentinya dimana.. 😅. Bisa-bisa jauh didepan traffic light (iya, didepan. Jadi indikator lampu ijo kadang bukan nyala lampu-nya, tetapi klakson orang2 dibelakang). Mwahahahah! Beda banget dengan yg terjadi dikota asal saya: Yogyakarta, yg setiap kena lampu merah selalu berhenti dibelakang-dalam garis marka.

Oke kembali soal disonansi kognitif. Dimana letak disonansinya? Yaitu tadi, udah tau kalo lampu merah itu harus berhenti dan tidak melebihi garis marka, teteep aja….  Harusnya sih ini menyebabkan disonan ya.

Tapi rasanya mekanisme mengurasi disonan orang Jakarta sudah terlalu hebatnya. Mungkin mereka mengabaikan saja bahwa marka jalan dibuat dengan alasan. Atau mereka mengatasnamakan macet dan berada didepan (traffic light) akan mempercepat perjalanan (sehingga tidak menambah kemacetan). Hahaaha, mungkin.

Festinger (1957)  menyebutkan ada 3 mekanisme mengurangi disonan.

1. Mengurangi pentingnya keyakinan disonan kita.
2. Menambahkan keyakinan yang konsonan.
3. Menghapus disonansi dengan cara mengubah persepsi.

Oke, balik lagi ke soal disonansi kognitif. Dari tadi saya sudah bolak balik menggunakan istilah ini. Teman-temen sudah tau artinya kan? Googling aja deh, banyak kok. Yg jelas, ketika disonansi kognitif ini terjadi, rasanya tuh ga enak. Makanya perlu mekanisme tertentu supaya disonansi atau ketidakseimbangan itu turun bahkan hilang.

Btw btw, (yg ini setengah curhat), tau gak kenapa saya suka mendalami topik “eating behavior”? karena saya bermasalah dengan makan dan makanan! Dengan saya berkecimpung ditopik tsb, saya yakin akan banyak pengetahuan dan sikap yang positif soal makan dan makanan. Maka harapannya adalah,  perilaku saya pun menjadi  lebih linear dengan pengetahuan dan sikap saya.

Hokelah. Selamat hampir berakhir pekan, semua.

/katagita

img_1883

resource:

Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford, CA: Stanford University Press.

Iklan