EASY

308330989-how-to-live-a-happy-fulfilling-life-funny-cute-quote-on-life

Gimana gambar diatas? Kamu setuju gak? BTW, judul tulisan ini terinspirasi dari sebuah serial di netflix. EASY. Isinya pun saya pikir ada nyantol-nyantolnya juga dengan cerita-cerita di EASY. Btw ada yang pernah nonton?


Pada dasarnya, ada dua keinginan dasar manusia:

  • Ingin diterima
  • Ingin (selalu) benar

Andaikan ini dibuat menjadi sebuah drama, maka dari dua keinginan ini akan menjadi sebuah cerita yang tidak ada habisnya, Tersanjung atau Uttaran pun lewat. Saya bayangkan sebuah fragmen seperti ini:

A: Kamu kenapa?

B: Ah gapapa.

A: Bener. Gakpapa kok. (tapi mukanya kayak mau nangis)

B: Bener? (bingung. bilangnya gapapa tapi kok kayaknya ada yang gak bener).

Kemudian drama-drama yang melelahkan itu.

Oke, sebagai penonton yang seharusnya netral,, begini kejadian lengkapnya dari sudut pandang A:

A datang ke rumah B. Sebenarnya B yang mengundangnya, dan kebetulan A juga ingin datang ke rumah B, A kangen dengan B. Namun sesampainya di rumah B, B justru nampak sibuk sendiri, seolah kedatangan A tidak penting. A mulai membangun asumsi-asumsi, “mungkin B tadi cuma basa-basi”, “kayaknya B gak butuh aku disini”, “OMG what am I doing here”, bla bla bla. Yang jelas A merasa sedih banget, kenapa disaat A sudah jalan jauh-jauh demi bertemu B, B seperti tidak membutuhkan dan menerima kehadirannya. Namun A tidak mau bilang apa yang dirasakannya karena A sebenarnya paham bahwa memang begitulah B, agak sedikit cuek. Apalagi A tau jika B sedang memiliki beberapa hal yang harus dia monitoring. Hanya saja, entahlah, hari ini rasanya B lebih cuek dari biasanya.  A merasa tidak dibutuhkan, padahal sebelum akhirnya A memutuskan datang, B seperti sangat membutuhkan A (yang membuat A akhirnya mendatangi B), namun ternyata, yang terjadi selanjutnya tidak seperti yang A bayangkan. Dengan pertimbangan-pertimbangan itu, A merasa tidak bijak dan kurang tepat rasanya kalau dia harus berterus terang dan mengeluh pada B.

Daaan.. biar imbang, saya ceritakan pula kejadian dari sudut pandang B:

B lelah sekali dengan tugas yang sedang dia emban, yang membuat dirinya harus terus-menerus standby dengan alat komunikasi. Oleh karena itu, saat A menelpon dan mengatakan kangen, B pun segera menyambut dan menawari A agar datang ketempatnya saja. B butuh A disampingnya, walaupun B tetap harus mengurusi kerjaannya yang seolah tanpa henti itu, kedatangan A pasti akan memberikan semangat tersendiri. Maka, B bingung sekali, beberapa saat setelah A datang, A mulai tampak aneh. Kenapa? Sayangnya A tidak mau menjawab. B pun merasa bingung sekali. Dia tidak senang melihat A murung.

Oke, gimana ceritanya? Memang tidak bisa drama mendayu-dayu, but does itu sound familiar? Apa saran kalian?

Mungkin ini yang bisanya disarankan baik pada A atau B atas masalah ini:

  • A, don’t assume. A sampaikan ke B, bahwa kamu mendapat kesan tidak dibutuhkan, padahal kamu sudah kesini dengan segudang harap. Apakah itu benar? Jika benar maka A bisa mendapatkan feedback mengapa B seperti itu dan menarik pelajaran dari situ, jika tidak, B pun juga akan memiliki kesempatan untuk mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi, dari kacamata B.
  • B sampaikan kepada A, bahwa dia senang sekali dengan kehadiran A, mungkin B bisa beri perhatian penuh sebentar pada A untuk menghargai kedatangannya dan supaya A tahu bahwa kedatangannya sudah sangat ditunggu. Setelah itu,, baru B mohon ijin untuk nyambi pekerjaannya.

Setuju, gak? EASY, kan ya? I know talk is cheap. So you have to apply it to make it EASIER. Kalau cuma dipikir ya gak easy jadinya 😀

ANYWAY. Apakah kalian sudah menemukan benang merah dari kedua sudut pandang dan juga dua keinginan dasar manusia? 

 ———————————————————————-

He Loves Me, He Loves Me Not

————————————————————

LALU, apa moral story dari cerita ini?

Bahwa pada dasarnya, manusia itu: 1)Ingin diterima; 2). ingin (selalu) benar. Dengan pemahaman ini, kita harusnya tau bagaimana harus memperlakukan orang lain. Kemudian, yang gak kalah penting adalah bagaimana kita berkesadaran bahwa kita juga tidak lepas dari dua keinginan dasar tersebut (kecuali kamu unicorn, sih!). Artinya, stop overthinking! Kalau kita merasa galau karena gak diperhatikan oleh yang inginnya memperhatikan kita, please, jangan lama-lama. Galau adalah hal yang wajar karena kita manusia yang ingin diterima. Tapi kalo mengganggu? Please, don’t. Fokus saja pada energi nikmatnya memperhatikan orang, tanpa berpikir dan menduga yang tidak-tidak. Pikirkan saja efek resiprokal: selama kita baik, orang pun berkecenderungan melakukan hal yang sama pada kita a.k.a POSITIVE THINKING MINDSET. Ini juga menjelaskan yang keinginan kedua, yakni to be always right. Benar itu kan relativitasnya super. Just do whatever we think is correct, true, and right. Gak usah mikirin nanti orang atau dia gimana (hasil dari kebaikan atau kebenaran itu). Itu namanya ngarep.

LESS DRAMA, LIVE YOUR LIFE, LOVE TO THE FULLEST!

Salam,

/katagita

 

Iklan