Oleh-oleh reuni: #makansaatlapar

Kemarin ini saya menghadiri acara reuni tempat kuliah saya dahulu. Acaranya ramai, seru, dan dipenuhi oleh kakak kelas angkatan lama, hihihi. Konon yang terbanyak jumlahnya angkatan 1989 (waduh Taylor Swift baru cengerr dan mereka sudah kuliah 😀 ), pun mereka juga terkompak. Yang perempuan berkerudung  bahkan seragaman kerudungnya, plus mereka menamakan diri sebagai D’Terong (lengkap dengan terong beneran yang dibawa-bawa). Saya juga kurang tau mengapa terong, selain alasan mereka: warnanya ungu, warna psikologi banget. Hahahaha, #gagalpaham, tapi mungkin ada cerita domestik yang sangat seru dan dalam dibalik itu. Selain itu, hadir pula angkatan ’60,’70,’80, ’90, dan tentu angkatan ’00 kami yang milenial :p . Yang jelas hasil amatan saya: makin muda angkatannya makin kalem saat reuni kemarin 😀 .

whatsapp-image-2016-11-26-at-1-57-54-pm

salah satu keseruan kemarin: jadi menyatu karena lagu!

Dan seperti biasa, bukan reuninya yang akan saya jadikan bahan pokok pembahasan kali ini. Namun masih ada hubungannya, sih. Jadi, panitia reuni ini juga melakukan anjangsana ke beberapa dosen sebagai rangkaian program, khususnya dosen-dosen sepuh yang sedang sakit. Duh, rasanya berkaca-kaca. Secara mereka adalah dosen yang sudah sangat berjasa dalam hidup saya, ikut berperan hingga saat ini dan kini. Namun kemarin, dari video, keadaannya memprihatinkan. Dari semua yang ditayangkan kemarin (sayang rekamannya mengalami kendala teknis sehingga tidak bisa melihat sepenuhnya video yang sudah disiapkan) bapak ibu dosen tersebut memiliki kesamaan yang sama: diabetes, dan penyakit kronis yang lain.

MAK JLEB.

Saya benar-benar mak jleb. DUH! Penyakit itu lagi! Penyakit yang sama yang sudah membuat bapak saya meninggal diusia muda. Indonesia memang menduduki juara 4 untuk penyakit diabetes ini setelah India, China, dan Amerika. Duuuh aduuuh… Rasanya gimana… gitu. Secara bersamaan pula saya semacam ditampar sekaligus dipacu untuk bangkit lagi dan bergairah dalam berkiprah didunia seputar perilaku makan. Mulai dari yang teoritis sampai yang praktis, musti disegerakan (jangan hanya yang idealis alias ide-ide yang hanya ada di atas alis alias dikepala doang).

Dikepala saya langsung muter-muter, jadi ini ngapain dulu, ya? Nulis buku (makin makjleb, karena kemarin kan targetnya akhir tahun kelar 😀 )? Bikin pelatihan besar-besaran (piye, jal?) Riset? Mulai bikin wellness program yang eno noh? Apa? Apa? Apa? Percaya gak, saya sampai mules mikirnya.

Namun untungnya ndak lama-lama. Ada beberapa luaran yang akan ditindaklanjuti. Saya akan mulai dengan konsisten menulis topik”eating behavior” di web ini, setidaknya seminggu sekali. Hari Minggu saya pilih untuk tema ini. Jadi setiap minggu akan ada tulisan dengan kategori “eating behavior”. Kenapa minggu, karena adalah hari baru. Senin biasanya penuh harapan, setelah sepekan melakukan kegiatan dan ditutup dengan akhir pekan yang membahagiakan. Saking bahagianya kadang diasosiasikan dengan makan kebanyakan, bukan? 😀 Harapannya ya ada yang baca yaa.. Hehehe, kalo enggak ya… (ayo dong, yang baca promosikan blog ini pada orang-orang tercinta. Semacam klik “like and share” itu lho, mosok gak malu, buat berita hoax aja kadang kita enteng share kok, buat blog cakep gini, enggak? hehehe #kokmalahnarsis).

Lalu apalagi? Rasanya kurang banyak kalo cuma satu langkah nyata. Maka akan saya tambahkan: mulai menerapkan gerakan masal: #MakanSaatLapar. Saya akan mulai dengan diri saya, yang jujur, masih suka tergoda dengan makanan gratis yang berkelimpahan. Merasa menolak rizky rejeki itu tidak baik, jadinya malah serakah. Padahal untuk bersyukur kan caranya beragam, ya? Ehehehe. #halahmalahceramah. Oke, lanjut. Makan saat lapar membantu kita mengerti kebutuhan tubuh , nah, kalo kita paham tubuh kita, maka tubuh juga akan paham dengan kita, bukan? Kita yang gak mau sakit! Nah, lanjut soal lapar lagi, kalau kita terbiasa makan saat lapar, maka saat tidak lapar atau bahkan masih kewowogan kita ga akan gampang tergoda makanan apapun, seenak dan sesamlohay apapun. Artinya, kita menjaga diri kita dari yang tidak perlu. Penyakit masa kini itu paling banyak dan sering muncul karena kita banyak melakukan hal yang tidak perlu (hayo, setuju, gak? ). Lapar sendiri adalah anugrah terindah dari Tuhan yang diberikan kepada kita, sebuah kemampuan hebat yang kita punyai dari bayi ceprot agar kita dapat bertahan hidup. Sayangnya makin gede kita makin sok gak kenal sama lapar ini, kenal tapi lapar yang hidung belang. Lapar yang bukan lapar yang sesungguhnya. Lapar yang pake topeng-topeng dasamuka. Emotional eating, lah, eksternal eating, lah, restraint eating, lah. Padahal dengan langkah yang sederhana ini saja, akan banyak mengubah banyak hal (misalnya ukuran pinggang –trust me, it works– ).

Makan saat lapar, ya. Bukan makan saat kelaparan.

Okedeh, salam d’terong, eh, salah, Happy sunday!

 

/katagita

#MAKANSAATLAPAR

Iklan