Cerita dari Wonosobo (1)

“A journey is best measured in friends, rather than miles.” – Tim Cahill

Kami (saya dan sahabat terbaik) memulai perjalanan dari jogjakarta menggunakan travel (Rp.65000,00). Perjalanan jogja-wonosobo ditempuh cukup lama dari waktu tempuh normal (4jam), yakni sekitar 6 jam. Berangkat jam 10 kami baru sampai wonosobo jam 4 sore. Rencananya kami hendak makan dulu diwonosobo, secara kami merasa butuh makan. Apadaya, sampai wonosobo kami langsung mendapatkan bus jurusan dieng.

Untung di travel kami sudah memakan camilan yg sengaja kami bawa. Masih bisa lah, nahan. Heheheh.

Naik bus wonosobo dieng (Rp.20000,00) merupakan pengalaman tersendiri. Pertama, kami harus berdesak-desakan sembari memangku carrier yg tidak ringan dan kecil; tidak hanya dengan penumpang lain namun juga dengan sembako dan kotak-kotak telur ayam 😹. Belum lagi bapak didepan saya dengan santainya ditengah suasana sesak; merokok dengan khusuknya. Kedua, sopir bus yang cukup ugal-ugalan 😹. Long weekend membuat kemacetan panjang dijalan, dan si bapak sopir plus kernet dengan beraninya menerobos jalur arah yang berlawanan -yang memang lebih kosong sih- sehingga bisa sampai kedepan terlebih dahulu. Ya memang jadi memotong kemacetan dan jadi didepan, sih, tapi… Kalo ada kendaraan dari depan, bagaimana? Sebelah kan jurang 😹. Untunglah, Tuhan masih melindungi kami🙏🏻. Ketakutan itu terjadi -ada kendaraan dari depan- namun kebetulan ada space untuk masuk di sisi kiri. Ketiga… Pengalaman 1&2 sangat terbayarkan dengan pemandangan alam yang luar biasa indahnya.. 😻. 

Memakan waktu kuranglebih 1 jam, kami pun sampai di dieng. Dasar turis, sembari menunggu orang yg akan menjemput kami pun foto2 dulu didepan tulisan “DIENG” 

kami-memulai-perjalanan-dari-jogjakart-a-menggunakan-travel-rp-6500000

Syukurlah tidak seberapa lama kami-pun bertemu dengan mas2 yg menjadi provider penginapan kami nanti di sikunir. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke sikunir. Pertigaan Dieng-Sikunir sebenarnya tidak begitu jauh. Sekali lagi karena macet, di pintu masuk objek wisata-dekat telaga warna- perjalanan kami pun terhambat. 

Desa sikunir terletak sekitar 5 km dr pertigaan dieng, menuju ke sikunir kita akan disuguhi pemandandangan perkebunan cantik khas gunung, dan juga area pengeboran bak di tengah laut! Ga percaya kan? Hehehehe. Iya, disana ada PLTP(Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi), melewatinya seolah sedang berada di manaaaa gt, bukan di dieng 😬. Macam di film armagedon. 

kami-memulai-perjalanan-dari-jogjakart-a-menggunakan-travel-rp-6500000-1

Walau pemandangannya cantik, namun udaranya berbau kurang sedap. Campuran bau belerang dan pupuk yg berasal dari tahi ayam, konon. 

Sikunir

Sampai di di sikunir, petualangan kami masih berlanjut. Berhubung kelaparan, kami pun meminta mas yang menjemput kami mengantarkan ke tempat makan. Maka makanlah kami nasi goreng ditengah perjalanan, dipinggir jalan sebuah jalan yg sempit. Lumayan enak nasi gorengnya, mungkin memang enak tapi jadi berasa lebih enak karena bercampur lapar. hahaaha. 

Usai makan kami pun melanjutkan perjalanan yang kami kira masih beberapa saat, namun ternyata.. omg… cuma tinggal beberapa meter doang didepan 😂. Kami diturunkan disebuah rumah yg juga menjual keripik dan carica khas dieng, yang konon itulah tempat menginap kami 2 hari ini. Hmm, dari sini kami pun mulai bertanya-tanya. 

Benarlah, masuk kamar kami makin tidak habis pikir: foto kamar yang disuguhkan waktu kami hendak booking sama sekali berbeda. Kami pun berniat komplain tapi orangnya sudah tidak ada. Yasudah, nanti saja, pikir kami. Malam nanti dia berjanji ajak kami ke candi bersama dengan klien yang lain, maka disitulah kami akan mengkomplain. Petang itu kami pun tidur-tiduran sebentar meluruskan badan, namun brrrrr…. yang ada malah menggigil kedingingan (sumpah dingin banget kamarnya!).

“Stop worrying about the potholes in the road and enjoy the journey.” – Babs Hoffman

Akhirnya kami putuskan untuk bergerak dan melihat sekitar. Ini akan lebih baik daripada tetap tinggal dengan alasan capek. Sudah kami di sikunir dengan kamar yang sudah tidak sesuai ekspektasi, apa iya ditambah dengan belum juga melihat pemandangan indah yang konon dimiliki tempat ini ? (FYI kamar kamu itu berada ditengah kampung).  Maka, berjalan kakilah kami ke arah telaga, disenja yang sudah mulai gelap. Ternyata lumayan jauh dan berbukit.. Tapi kami pun sudah bertekad karena dari jauh sudah bisa melihat kelap kelip lampu entah apa yang sepertinya akan sangat cantik dan berharga untuk dicapai. Beruntunglah ditengah jalan kami bertemu 3 bapak yang sedang bekerja mengendarai mobilnya -hahaha- dan kami pun nebeng mereka. Kenalan? Bukan? Kami tidak pernah mengenal mereka sebelumnya. Murni beneran one shot nebeng saja. Masih kepo? Jadi, gini ceritanya, mereka ini nginep didekat danau, saat itu sedang mengeluarkan mobil dari sebuah villa karena disuruh beli makanan. Kami yang kebetulan jalan melintas dan sudah jadi kebiasaan saya selalu menyapa, eh malah ditawari apa mau nebeng. Kami yang oportunis pun mengambil kesempatan ini. Kok gak takut? Enggak lah, soalnya didalam terdengar suara ibu-ibu dan anak-anak, jadi ini bapak-bapak adalah bapak-bapak sungguhan, bukan bapak-bapak yang lagi iseng. Itu aja sih, plus kami percaya bahwa pada dasarnya semua orang itu baik. 

Dan benarlah. Dengan mobil, perjalanan ke danau cuma sekitar 5 menit kurang. Sampai disana.. ternyata ‘wow rame banget’. Kami pun berpisah dan mengucap terimakasih pada bapak- bapak tersebut.

Disekitar danau banyak penjual makanan-minuman dan kami pun singgah disalah satunya. Nikmat banget ngopi sembari makan tempe mendoan yang memang jadi ciri khas wonosobo. Disitu pulalah kami ngerumpi soal kamar kami dan betapa irinya dengan mereka yang camping dipinggir danau. Kamu pun mulai berpikir bagaimana caranya agar -okelah kami tidak camping disitu- tapi setidaknya malam ini bisa menikmati pemandangan danau sambil berada ditenda. Pasti asyik, karena mereka, tenda-tenda itu berada tepat dipinggir danau. Syahdu. Romantis. Merindu. #halah

Secara kebetulan pula ada mas-mas berbadan kecil yang membeli nasi ditempat kami jajan. Seperti biasa dengan gaya sok akrab saya mengajaknya bicara sembari dia menunggu si ibu menyiapkan nasi yang dimauinya. Saya tanya ala kepoers: soal dia kesitu sama siapa, nginep dimana, dah berapa lama, dst. Dari asesmen singkat tsb saya menyimpulkan orang ini potensial untuk ditongkrongi tendanya: dia datang hanya berdua dengan temannya yang juga laki-laki. Mereka juga clueless soal tempat ini, satu dari Bekasi satu dari Solo. Ini lah benang merah kami. We are travellers, we are brothers and sisters. Hehehehe. Dia pun segera berlalu karena nasinya sudah siap. Yang jelas, kami sudah mengantongi “welcome ticket” andaikan kami mau duduk duduk menikmati danau cebongan malam ini di tenda mereka. 

Berhubung kami adalah perempuan dengan tujuan, tak berapa lama kami pun “melacak” tenda mereka berbekal arahan dari si mas tadi. Walau kala itu ramainya setengah mati, kami temukan juga tenda mereka! YAY! Si mas -dan apalagi temannya- tentu agak kaget karena perempuan-perempuan ini ternyata nekad sekali, benar-benar mendatangi tenda mereka. Tapi kami berusaha meredamnya dengan sikap dan perilaku kami yang biasa aja dan seolah kami adalah teman lama yang menyusul ke tenda temannya yang lain. Ha ha ha.

Untung mereka memang baik, berbekal sikap sksd alias sok kenal sok dekat itu pula, saya minta dimasakkan air karena ingin buat kopi (sachet). Rasanya kok ga afdol kalau nongkrong ditenda, menikmati pemandangan yang luar biasa, tanpa melibatkan kopi. Ya, saya memang bawa kopi2 sachet ditas (saya bawa dari rumah) karena dari awal sudah membayangkan momen seperti ini  Dan ya mereka manut saja memasakkan air dan menyiapkan kopi bagi kami semua. Heheeheh. 

Malam itu betapa indahnya, kami menikmati secangkir kopi bersama-sama sambil cerita ngalor ngidul soal perjalanan ini dan rencana setelah hari ini, juga sedikit tentang latar belakang kami. Yang jelas, malam itu membuat saya dan Wulan berencana mengubah itinerary. Tidak beberapa lama kami pun pamit karena ada janji ke candi, yang jelas, kekecewaan kami atas kamar yang tidak sesuai dengan yang ditawarkan dan kami bayangkan sedikit terobati dengan suasana malam itu.kami-memulai-perjalanan-dari-jogjakart-a-menggunakan-travel-rp-6500000-2

“You don’t have to be rich to travel well.” – Eugene Fodor

cerita dari wonosobo bagian 1. 

#bersambung

#verylatepost

#katagita

Iklan