Cerita dari Wonosobo (2)

“She is free in her wildness, she is a wanderess, a drop of free water. She knows nothing of borders and cares nothing for rules or customs. ‘Time’ for her isn’t something to fight against. Her life flows clean, with passion, like fresh water.”
― Roman Payne

DAY 2.

Jam 3-an kami sudah bangun dan jalan cepat ke kaki bukit sikunir. Tujuannya jelas: Chasing The Golden Sunrise. Kali ini tidak ada Bapak-Bapak yang bisa ditebengi. Tapi bukan masalah, toh kami perlu melawan hawa dingin yang lumayan menusuk tulang dengan menggerakkan badan ini. Sebenarnya dari kaki bukit sampai puncak Sikunir hanya memakan waktu 20-30 menit. Namun kami sengaja datang dan mendaki pagi-pagi karena menurut informasi yang kami kumpulkan dari google, pada liburan panjang seperti ini bisa-bisa orang berdesak-desakan untuk naik, sehingga tangga pun kami harus antri. Kalau sampai kelamaan diperjalanan bisa-bisa kami kehilangan momen matahari terbit. 

Benarlah, disepanjang jalan telaga hingga sampai dikaki bukit orang-orang sudah sangat ramai. Sangat. Tempo mendaki jadi sangaaat sangat lambat. Tapi ini kentungan juga sih, jadi ga ketauan kalo sebenernya ngos-ngosan. He he he. Yang membuat acara mendaki sikuni ini menarik adalah: ada seorang eyang yang sudah sangat sepuh (bahkan harus digandheng) yang ikut dalam kerumunan, beliau ada didepan kami. Sebagai orang muda tentu kami malu kalau sampai tidak kuat atau nampak lemas, ha ha ha. 

Setelah beberapa saat (saya udah lupa bagaimana rasanya mendaki bukit sikunir. yang saya ingat hanya capek, pengap karena ramai sekali, dan pegel kaki -sama sekali gak menarik diceritakan) akhirnya kami sampai ke spot melihat matahari terbit. Kami sempat kebingungan dimana sebaiknya kami harus mengambil posisi, plus penuh sekali tempatnya! Akhirnya kami putuskan duduk dan menanti disebuah spot. Kamera, handphone, dan sebagainya sudah disiapkan. Kami pun kemudian duduk saja sambil menanti merekahnya matahari pagi. Yap! Sunrise is always my favorite. Langit yang berubah menghangat, kemudian matahari mulai muncul sedikit demi sedikit hingga akhirnya menjadi bulat sempurna. Begitu pula Sikunir pagi itu. Sempat menguning menandakan matahari sebentar lagi merekah, namun sayang karena berawan kami tidak bisa menikmati proses sunrise yang sempurna. Namun demikian kami tidak kecewa, karena proses menanti itu sendiri sudah sebuah hal yang tak terlupakan. Begitu matahari keluar, maka keluar pula kaum-kaum selfie dengan berbagai aliran. Ha ha ha ha! Liburan di Indonesia memang harus tahan banting dan sabar menghadapi kaum sendiri yang selalu haus untuk berfoto. Kadang saya juga terbawa dengan keinginan membuat kenangan dalam sebuah foto yang indah, sehingga membuat saya sibuk dan justru mengesampingkan moment berharga saat itu. Ya gimana ya, terbawa lingkungan dan eksistensi, bray. Biar bisa jadi bahan cerita nanti! Kalau cuma dalam memori ini, siapa yang percaya? Bwahahaha. Bener kok, cuma saya belajar untuk seperlunya saja membuat dokumentasi, dan lebih menikmati lagi momen yang ada.

Oke kembali ke puncak Sikunir. Ternyata, sebelah kami menunggu sunrise tadi asalnya tidak jauh dari asal sahabat saya, dan artinya kami masih satu daerah asal. Ngobrol-ngobrollah kami sambil tidak lupa berfoto bersama.

jam-3-an-kami-sudah-bangun-dan-jalan-cep-at-ke-kaki-bukit-sikunir-tujuannya

wait… itu kenapa ada yang pake gaya jari tengah ya? #hadeh

Setelah puas menikmati matahari pagi, kami pun memutuskan untuk mengeksplorasi sudut lain dari Sikunir. “Mungkin ada spot yang lebih bagus buat foto”, pikir kami. Hehehehe. Masih aja yaaa… Dan benar, kami menemukan satu spot yang lumayan oke, karena dari situ terlihat beberapa gunung. Lagi-lagi disitu kami berkenalan dengan sekelompok orang (yang kami mintai tolong mengambil foto kami berdua, hehehe).

Lanjut.

Jika tadi kami tidak merasa haus dan lapar, sebelum turun bukit rasanya kami wajib jajan dulu. Iya, jajan. Karena ternyata, walaupun di puncak bukit, ada yang jualan. Heheheeh. Nongkronglah kami di salah satu penjual minuman. Ngopi lah kami disitu, sayangnya tempe mendoan disitu habis. Sementara itu, kami melihat dibagian lagi di spot jualan ada penjual mendoan. Berhubung kami mager untuk beli sendiri, kami pun nitip orang yang kebetulan beli kopi dipenjual yang sama dengan kami. Lha kok bisa? Bisa dong, kebetulan kami memang membangun percakapan dengan mereka yang kebetulan jajan dipenjual yang sama. Kebetulannya lagi, mereka berasal juga tidak jauh dari tempat kami tinggal. Dengan sedikit ilmu provokasi soal “enaknya makan mendoan”  kami pun berhasil membuat mereka juga makin pengen dan urgent untuk makan mendoan saat itu. Dengan sedikit ilmu social influence mereka pun terpengaruh untuk membeli. Dan dengan sedikit ilmu persuasi mereka pun berinisiatif untuk membeli  mendoan ditempat yang kami lirik tadi. Ta Da! Nah, selanjutnya, kami pun tinggal bilang: nitip ya. Pasti mau dititipi, secara mereka bertiga dan kami berdua. Gak wangun kalau menolak, karena jumlahnya lebih banyak. Heyaaa…

jam-3-an-kami-sudah-bangun-dan-jalan-cep-at-ke-kaki-bukit-sikunir-tujuannya-1
terimakasih ya mbak dan mas 🙂

Benarlah akhirnya kami menikmati mendoan wonosobo yang termashur  dan masih anget, diatas bukit sikunir yang indah, sambil nyeruput kopi kapal api. Oh indahnya dunia!

“To travel is to live,” kata Hans Christian Andersen. Dan salah satu yang diajarkan kehidupan adalah bagaimana caranya kita agar bertahan hidup.

jam-3-an-kami-sudah-bangun-dan-jalan-cep-at-ke-kaki-bukit-sikunir-tujuannya-2

#verylatepost

/katagita

Iklan