the hardest question

Pertanyaan untuk diri sendiri adalah pertanyaan yang paling menakutkan. Pertanyaan yang kita tahu jawabannya, karena itu tentang kita, namun kadang tidak sesuai dengan standar, entah itu kebenaran, kebajikan, kenormalan, kesusilaan, kebaikan, apalah, you name it. Semoga masih ingat postingan saya sebelumnya bahwa pada dasarnya manusia itu ingin selalu benar (dan karena) manusia itu ingin agar selalu diterima. Nah, kalau ada disonansi semacam ini tentu diri agar berusaha mengurangi kan? Salah satunya yang paling gampang ya dengan tidak usah nanya.

Tapi kalau urusannya dengan diri sendiri, mau sampai kapan kita menghindar? Dengan teman dekat, mungkin masih bisa kita berjarak. Nah kalau dengan diri? Bisa-bisa tidak damai dan tenang hidup ini. Oleh karena itu, memang berdamai dengan diri itu adalah hal yang penting dan urgen untuk dilakukan. Evaluasi kembali “standar-standar” yang membuat kita bahkan tidak jujur dengan diri sendiri. Bukan berarti kita menjadi pemberontak atau semau sendiri, namun perlu lebih ditelaah ulang, sehingga kita temukan maknanya yang sesuai dengan terminal value* kita.

“Courage doesn’t happen when you have all the answers. It happens when you are ready to face the questions you have been avoiding your whole life.”
― Shannon L. Alder

Happy friday!

 

/katagita

 

*Terminal Values refer to desirable end-states of existence. These are the goals that a person would like to achieve during his or her lifetime. These values vary among different groups of people in different cultures. -The Rokeach Value Survey (RVS)

Iklan