lapar mata

155205_131397964

Hampir saja terlupa, setiap minggu saya berjanji untuk menulis seputar perilaku makan. Sebenarnya agak malu, karena minggu terakhir ini perilaku makan saya agak kurang beres. Saya sudah abai dengan perut saya yang kadang berontak kekenyangan, namun masih saja saya paksa, karena mata dan lidah saya tak mampu menjaga dirinya.

Yap, meminjam istilah dari pakar (Misalnya Van Strien atau Abramson), yang terjadi pada saya itu disebut external eating (jadi saya ini external eater). Mengenalinya mudah kok. Kalau orang lain makan karena lapar, external eater ini makan karena respon-respin eksternal seperti, “Duh kuenya cantik banget”, “Aduh baunya sedap betul”, atau karena “teman juga makan”. Atau bisa dibilang, apa ya, lapar mata! Nah iya, LAPAR MATA!

Apakah anda termasuk external eater? Coba deh jawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini:

Saat yang lain makan, saya pun ikut makan walau tidak sedang lapar

Jika ada makanan yang baunya enak, saya harus mencoba sedikit.
Sulit untuk mengacuhkan bau makanan yang baru selesai dimasak

Jika rasa makanannya benar-benar enak, saya akan makan lebih dari 
yang direncanakan

Saat saya lapar, saya tidak akan makan jika rasanya tidak enak

Walaupun saya sudah makan, tetapi tiba watunya makan maka saya 
akan makan lagi

Saat nonton ke bioskop, saya membeli popcorn atau snack walaupun tidak 
sedang lapar

Bukan hari raya namanya jika saya tidak makan terlalu banyak

Kapanpun ada momen spesial, saya merayakannya dengan makanan

Bagaimana? Apakah banyak yang anda jawab YA? Jika demikian, barangkali memang anda adalah seorang external eater.

Pertanyaan selanjutnya adalah: kalau iya, lantas saya harus bagaimana?

Ada beberapa tips yang bisa diaplikasikan. Lumayan simpel kok. Tapi ampuh.

  1. JAUHKAN MAKANAN dari anda. Ini yang paling gampang. Kalaupun suka menyimpan makanan, simpan dalam wadah tertutup. Jadi, anda tidak akan mudah kepingin. Atau buat aturan bahwa makanan tidak boleh ada diarea selain dapur dan ruang makan. 

  2. Minum air putih yang banyak! Selain untuk menjaga anda tetap terhidrasi, air putih membantu memisahkan antara rasa lapar dengan rasa haus. Biasanya kita hanya haus namun karena otak tak mampu menterjemahkan secara berbeda, ditangkap menjadi sinyal lapar (plus kadang kita suka pura-pura lapar 😀 ). Kalau sudah kenyang air kita mungkin akan memilih untuk menolak (atau setidaknya mencoba segigit saja) andaikan ada teman yang tiba-tiba menawari makana, hehehe.

  3. Kunyah pelan-pelan! Nikmatilah makanannya, taruh alat makan anda saat sedang mengunyah.

  4. Tentu saja: makan sadar. Sadari kapan, dimana, dengan siapa, dan tentu saja apa yang sedang anda makan. Mindfulness is always good.

Atau secara ringkas, yang paling gampang adalah: #MAKANSAATLAPAR

Btw, berhubung saya mendalami soal tema perilaku makan ini, rasa tidak enak yang muncul pada diri saya makin besar. Disonansinya menjadisangat besar. Duh, musti segera tobat ini. 

(Dari jauh pun terasa terdengar lagunya black eyed peas yang “Where is the love”)

People killin’, people dyin’
Children hurt and you hear them cryin’
Can you practice what you preach?
Or would you turn the other cheek?

selamat hari minggu,
/katagita

Iklan