BAPER

tahklja

Pagi-pagi saya sudah baper. Yap, Baper. Bawa Perasaan. Istilah kekinian yang dipakai untuk menjelaskan sebuah keadaan ketika kamu,,,,, melibatkan unsur emosional kamu atas sebuah situasi/keadaan.

Ini nih saya kutip beberapa dari kitabgaul.com (soal kredibilitas ya nomor sekian, ya, yang penting bisa menjelaskan).

baper (bawa perasaan)
Yailah, gitu aja baper. Liat foto kucing aja jadi inget mantan
Bawa Perasaan
semacam perasaan yang datang secara tidak sengaja dan bila dilanjutkan bisa menimbulkan komplikasi berkelanjutan.
emang kadang kenangan yang bikin sedih tapi kenyataan,kenyataan kalo kamu lebih bahagia sama dia daripada sama aku 😥
singkatan dari Bawa perasaan
Budi: (nangis lihat drama)
Ali : Udah ah, jangan baper gitu

Atau mungkin kalau kata orang dulu, “diambil atau dimasukkan ke hati.” Sering kan kita dengan wejangan, “Gak perlu diambil hati, lah!” Mungkin kalau diucapkan kini jadinya, “Gak usah baper deh lu!” Hehehe.

Nah kembali ke baper saya tadi pagi, sebenarnya berawal dari masalah sepele: tidak dianggap. Saya mengirimkan pesan di saat tidak tepat, dan orang tersebut asertif kepada saya bahwa dia akan menghubungi saya kembali jika waktunya sudah tepat. Eh lha kok saya baper. Sedih, merasa ditolak, merasa tidak berharga… bla.. bla… wah panjang dan drama, sepanjang dan sedrama serial Uttaran.

Walah, repot banget ya baper ini dampaknya. Hahahaha. Trus kira-kira kenapa ya, manusia itu baper? Mungkin gak seseorang tidak baper?

Jawaban pertama mungkin sesederhana ini: manusia baper karena manusia itu lemah. Manusia baper karena ada dua hal yang sangat dibutuhkannya, tidak didapatkan: yakni kebutuhan untuk diterima dan untuk menjadi benar. Ketika dua hal ini gak terpenuhi, baper deh.

Pertanyaan selanjutnya: mungkin gak, kita tidak baper? Ya mungkin aja, kalau kedua kebutuhan diatas semakin lemah atau tidak ada, maka makin tidak baper-lah kita. Ya iyalah, artinya kan sesuatu atau seseorang itu tidak penting atau tidak signifikan sehingga ya penerimaan dan dianggap benar tadi tak lagi menjadi kebutuhan.

Ya kira-kira begitu analisa singkat atas baper. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Ingat, orang baper gak pernah salah (kalau kasih analisis), hihihihi.

Selamat malam, dunia. Semoga besok tidak baper lagi.

“Life is like a sandwich!

Birth as one slice,
and death as the other.
What you put in-between
the slices is up to you.

Is your sandwich tasty or sour?

― Allan Rufus

/katagita

Iklan