Tips berharga dalam berlari :)

Bulan Juli nanti, saya akan mengikuti acara run race, dan saya akan turun di 10K. Oleh karena itu, mulai dari saat ini dan beberapa minggu yang lalu saya mulai mempersiapkan diri. Yap, tentu saja mempersiapkan diri supaya akhir Juli nanti saya bisa jadi finisher 10K plus note: tidak malu-maluin catatan waktunya.

Lari memang bukan hal baru buat saya. I love running. Hanya saja, karena rasa cintanya tidak pernah dipupuk, seringnya masih kalah dengan rasa malas. Sampai akhirnya saya kembali mendaftar diacara lari seperti yang akan saya ikuti Juli nanti, dan mau  tidak mau saya pun harus making a very good preparation.

Agak flashback, lari terjauh yang pernah saya lalui sekitar 8 km, tapi jangan tanya, itu tempo siput. Kalau tidak salah hampir sejam atau bahkan sejam lebih saya mencapainya. Saya ingat betul, itu terjadi di Groningen. Saya lari bersama salah satu teman dari Indonesia yang kebetulan tidak kuat lari (katanya) sehingga dia lebih banyak jalannya daripada larinya, sehingga saya bisa cuma lari-lari kecil manja tanpa banyak tenaga. Kemudian dipadu dengan kala itu kami kesasar, sehingga jarak 8 km bisa saya lalui tanpa terasa. Namun yang membuat saya bangga: saya lari sepanjang 8 km itu, tanpa berhenti (jalan). Haha!

Oke kembali ke persiapan untuk 10K. Beberapa kali saya lari di CFD Sudirman. Cukup kaget juga setelah puluhan purnama tidak lari, hari itu saya kuat 5K tanpa henti. Mungkin karena saat itu saya berlari bersama teman yang mensupport saya dengan sabarnya. Minggu berikutnya, saya kembali melatih diri dengan berlari disebuah lapangan bola. Hanya saja, baru 2km lari saya terhenti: antara kram perut (kebetulan sedang period) dan juga saya kalah menghadapi diri sendiri. Kayaknya berat banget. Ya sudah saya pun tak lari lagi. Tapi btw, hipotesa saya yang lain: tidak ada supporter saat berlari, sehingga saya menyerah begitu saja saat ada keinginan berhenti.

Tidak hanya berlari, saya pun mencoba mempelajari teknik berlari dan juga hal-hal yang dapat mendukung agar kuat berlari. Tentu saja saya juga banyak bertanya dan mendengar nasehat kawan-kawan yang jago lari. Namun, mengobservasi diri sendiri itulah yang terpenting menurut saya. Kenapa? Karena lari itu seperti halnya sifat manusia: sngat individual. Memang ada aturan universal, namun yang berlaku untuk orang A belum tentu cocok untuk B namun bisa jadi oke bagi orang C.

Eniwe, pelajaran yang paling berharga dari proses persiapan yang saya lakukan beberapa minggu ini saya dapatkan saat saya lari lapangan bola. Apakah itu? Jadi insight ini saya dapatkan setelah disalip mbak-mbak yang berlari dengan sepatu mirip converse dan baju flanel. Hohoho, that’s true, i don’t just make it up. Nah dari situ saya pun mengalami AHA moment. Segala macam teori, persiapan, apapun itu, kalah dengan lari itu sendiri. Percuma kebanyakan teori kalau akhirnya kamu enggak lari, atau membiarkan dirimu terus berlari. Maksudnya?

you want to run?

JUST RUN!

 

Salam,

 

/katagita

Iklan