Apa yang kamu yakini ketika kamu sendiri tidak dapat membuktikannya?

Saat ini saya sedang membaca sebuah buku yang berjudul The Decision Book: Fifty models for strategic thinking. Sampailah pada sebuah halaman yang menuliskan tentang the unimaginable model. Bagian ini menjelaskan bahwa memang ada hal-hal yang kita yakini namun memang tidak bisa dibuktikan, atau ditunjukkan. Apa yang saya tangkap sih bahwa kita tidak perlu berpusing-pusing. Kata Immanuel Kant: jika kita bisa membayangkannya, maka ia harus ada. Kant memang menentang empirisme dan rasionalisme.

Anyway, bukan itu yang saya mau tulis disini. Saya suka filsafat namun yang ingin saya tulis disini adalah sebuah puisi yang tiba-tiba muncul setelah membaca tentang the unimaginable model ini. Ya, puisi.

(Jadi, saya menulis soal Kant dan membawa-bawa pertanyaan filosofis supaya puisi saya tidak dianggap menye-menye, hehehehe. )

Here we go.

Cintaku salah.

Namun aku punya pembelaan.

Yang juga diamini banyak orang.

Bahwa cinta tidak bisa memilih.

Aku sudah dipilih cinta.

Dan aku pun memilih untuk mencinta.

Mencinta membuatku terus merasa.

Mencinta membuatku terus bergelora.

Dan gelora itu yang membuat aku hidup.

Aku jadi bertanya atas pernyataan pertama:

apakah cintaku salah?

Atau

Ada hal yang tidak aku tau?

Ah, putusku.

Lebih baik aku tidak tahu.

 

/ADC.

Jogjakarta, 25 Mei 2017.

Iklan