Ketika Maslow Menyadarkan Saya untuk Tidak Diet Lagi

Apa sih yang membuat orang terus bergerak dan hidup? Konon adalah motivasi, motivasi inilah yang membuat kita tetap maju dan dengan lantang selalu menyanyikan “the show must go on” apapun yang sedang dan akan kita hadapi didepan.
Oleh karena itu, banyak sekali kajian tentang motivasi yang dilakukan, karena ya itu tadi, motivation keeps us alive, motivation makes us go beyond and further. Motivasi konon adalah prediktor dari setiap keberhasilan dan capaian kita. WOW.

Termasuk ketika kita mau mengatur berat badan. Perlu motivasi tinggi dan kuat, cint! Kalau tidak, yaaaa… belum-belum udah nyerah. Apalagi, buat kalian yang seneng dan hobi banget diet. Diet karbo lah, diet paleo lah, diet atkins lah, diet keto, lah. Semua butuh kedisiplinan dan juga of course, to keep itu going we need to stay motivated. Apalagi jika diet yang sedang kamu lakukan adalah hal yang sama sekali berbeda dengan perilaku makan sehari-hari kamu. Dan itu gak mudah lho. Hehehe.

Oke, kembali ke isu tentang motivasi. Jadi tidak heran jika banyak sekali teori yang membahasa tentang motivasi. DAN, berhubung yang akan saya tulis ada hubungannya dengan makan, diet, maka yang saya angkat saat ini adalah salah satu teori motivasi klasik yakni teori motivasi dari Maslow (1928) “The Hierarchy of Needs”. Kenapa teori Maslow, karena menurut Maslow, people keep motivated karena mereka berusaha memuhi kebutuhannya, yang bentuknya seperti piramida. Dimuai dari kebutuhan fisiologis sebagai dasar dari piramida kebutuhan, hingga kebutuhan untuk aktualisasi diri. Oke, buat yang belum familiar, begini gambarnya:

maslow

Nah, lantas kenapa saya bawa-bawa teori motivasi Maslow untuk membahas soal makan dan diet? Karena, pagi tadi saya seperti mendapat AHA momen (ini alasannya ga banget sih ya?, hehehe) LHO, KALAU KEBUTUHAN FISIOLOGIS DAN RASA AMAN ADALAH PONDASI KEBUTUHAN MANUSIA, BISA DIBAYANGKAN DONG, APA YANG TERJADI JIKA KEDUANYA DITEKAN?
Heh maksudnya? Ya bayangin aja, kalau diet kan artinya you are lacking of something (namely FOODS) and you feel UNSAFE dengan apa-apa yang kamu lakukan (yang masih berhubungan dengan makan), you do not allowed to eat this (WHICH ACTUALLY YOU LOVE), musti ini jam segini, musti yang begini yang boleh,…………. HALAH.
Sampai disini saja we may conclude that IT WON’T BE WORKING.
Jadi apa yang saya mau tulis disini adalah Maslow menyadarkan saya untuk: STOP DIETING.

Apakah itu kemudian berarti saya sedang meminta semuanya untuk seenak jidat dengan makan? ENGGAK. What am I going to say is: you need to change your mindset. Why? Karena membatas-batasi diri untuk gak boleh ini itu apalagi berhubungan dengan kebutuhan dasar bukanlah sesuatu yang bijak. Alih-alih diet, change your habit into something healthier. Percuma berbulan bulan kamu menahan-nahan ga makan ini ga makan itu, tapi kemudian setelah berat idaman tercapai, kamu makan seenaknya lagi. Kembali kekebiasaan yang tidak sehat lagi. Malah kasian tubuhmu dipermainkan.

Katanya, dengan usaha yang sama menghasilkan result yang beda adalah gila. Jadi, kalau kamu pensiun diet, kembali kekebiasaan lama dan mengharap hasil seperti saat diet, artinya kamu gila.

EAT WHENEVER YOU ARE HUNGRY,
EAT WHATEVER YOUR BODY NEEDS
(and yeah, body needs nutritious foods)

success-is-being-at-peace-with-yourself

(Lho, lho jadi ini tulisan maksudnya apa? Maslow gimana?

Udah ah, saya mau naek kereta dulu. Kapan –kapan dilanjut. See you in a bit!)

 

Happy weekend,

 

/katagita

Iklan