first travel, umroh, dan kaya.

Postingan Adjie (@adjiesantosoputro) telah mengilhami saya membuat tulisan ini. Saya kutip postingan beliau yah:

Manusia menjadi benar-benar kaya ternyata ketika ia enggak pernah merasa punya apa-apa, jadi ia enggak pernah kehilangan apapun.

Postingan Adjie tersebut benar-banar relate dengan apa yang sedang saya alami. Seperti yang kita sama-sama tahu, salah satu kasus yang marak akhir-akhir ini adalah kasus #FirstTravel. Dan yah, saya adalah salah satu “korbannya”. Awal tahun lalu saya mendaftarkan diri dan ibuk saya, dengan harapan (awal) tahun ini kami dapat melaksanakan ibadah umroh.

Awalnya memang saya kurang yakin dengan paket umroh yang ditawarkan, karena biayanya memang jauh lebih murah dibandingkan umroh reguler. Namun berdasarkan perhitungan umroh ala backpacker, jumlah tersebut masih memungkinkan untuk ongkos umroh, apalagi jika dilakukan secara massive, maka akan lebih cukup lagi (karena mungkin agennya dapat diskon dll). Sudah begitu, beberapa teman dan saudara mengaku pernah memanfaatkan jasa umroh promo ini and all went well. Maka saya pun jadi tanpa ragu untuk mendaftarkan diri dan ibuk untuk turut serta. Bahkan saya senang dan bersyukur, karena dapat membuat salah satu cita-cita ibu saya terwujud, yakni pergi ke tanah suci.

Setelah itu saya pun sudah tidak memikirkan lagi perihal umroh, karena sudah jelas, kami akan diberangkatkan akhir tahun 2016/awal tahun 2017. Waktu itu masih sekitar awal tahun 2016 pula, jadi yang perlu dilakukan hanyalah menunggu. Saya memiliki keyakinan bahwa pergi ke tanah suci adalah rejeki yang sudah saya usahakan. Sekali lagi saya bisa mengusahakan (dengan mendaftar) namun apakah kemudian saya pergi atau tidak -seperti halnya rejeki- itu masih misteri.  Bisa saja kan, saat tanggal yang diberikan muncul, saya pas tidak bisa karena berbagai macam hal. Padahal menurut perjanjian, jamaah yang mendaftar program promo tersebut harus bersedia dengan tanggal yang ditetapkan.

Sampai akhirnya tahun 2017 datang. Kemudian menyusul bulan-bulan diawal 2017, hingga saat ini, 4 bulan menjelang akhir tahun. Saya sendiri memang sempat mendengar selentingan soal ketidakberesan #FirstTravel yang mulai tercium, namun sekali lagi saya tidak begitu peduli. Ketika merasa ingin tau kejelasan soal keberangkatan umroh kami yang saya lakukan hanyalah mengemail pihak #FirstTravel, atau meminta Ibu menelpon pihak #FirstTravel. Selama diberikan jawaban baik-baik (untuk menunggu) saya pun percaya saja. Sekali lagi, kesempatan ke tanah suci adalah sebuah bentuk rejeki yang tidak bisa dipaksakan.

Hingga akhirnya kasus #FirstTravel ini semakin ramai. Saya pun kemudian bergerak untuk memastikan hak saya. Kalau boleh jujur, saya malas ribet-ribetan. Uang 30 juta masih bisa dicari, dan  yang namanya rejeki itu sudah diatur, namun bagaimana dengan Ibuk saya? Beliau sangat bersukacita waktu saya informasikan soal rencana berangkat umroh bersama. Beliau sangat antusias mempersiapkan banyak hal. Namun yang membuat haru adalah: Ibuk saya rupanya juga mengikuti perkembangan berita ini, namun karena melihat saya kalem beliau pun tidak berani mengutarakan kepada saya soal kegundahan hatinya. Beliau tidak ingin anaknya makin pusing dengan kemungkinan penipuan ini. (Percayalah Buk, aku tidak pusing karena rejeki tidak akan tertukar. Justru aku sedih karena belum jadi memberangkatkan Ibuk ke tanah suci. Terimakasih ya, Buk sudah memikirkanku).

Oke, kembali ke postingan Adji. Postingan tersebut telah membantu saya makin meyakini bahwa langkah tenang yang saya ambil atas kejadian ini sudah sangat tepat. Sejalan dengan keyakinan saya bahwa ke tanah suci adalah rejeki yang sudah saya usahakan. Soal hasil akhir, adalah kuasa Allah. Kalau memang rejeki kami berangkat ya berangkat, entah bagaimana jalannya; jika tidak ya tidak.

Selain itu, saya juga belajar dari sosok pemilik #FirstTravel yang jadi sorotan. Mereka patut diacungi jempol, bahwa sangat mungkin membangun bisnis dari bawah dan menjadi besar. Sayangnya saat diatas entah mengapa kemudian terjerembab, dan sayangnya lagi harus membawa banyak pihak yang harusnya tidak terbawa (seperti saya) ikut merasakan jatuhnya. Hehehehe.

Semoga mbak Anisa dan pasangannya juga mengamini postingan Adji diinstagram, bahwa kaya itu adalah ketika tidak merasa punya apa-apa sehingga ketika tidak ada, tidak merasa kehilangan apa-apa. Mudah-mudahan gak sulit ya, setelah mereka merasakan situasi kemewahan. Ohya satu lagi pembelajaran dari mereka, andaikan nanti nasib yang lebih baik menghampiri, tidak perlulah ikut terseret arus kemewahan. Hidup sederhana adalah kunci hidup bahagia (dan akhirnya jadi gak kebanyakan masalah, hehehe).

Hmm, baiklah.

 

Jakarta, 15 Agustus 2017

 

/katagita

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s