BECOMING MINIMALIST (1)

fumio sasaki cover.jpg

gambar dari sini

Setelah menyeleaikan buku dari Marie “The Art of Tidying Up” , saya pun tertarik dengan buku serupa: Goodbye, things on minimalist living. Sebuah esai dari Fumio Sasaki yang mengajak kita pada pengalamannya menjadi seorang minimalist. Bagaimana tidak minimalis, Sasaki hidup disebuah studio kecil di Tokyo dengan hanya memiliki tiga kemeja, empat celana panjang, empat kaos kaki dan ya sudah itu saja. Perabotan yang dia miliki salah satunya hanyalah tatanami. Ya, dia juga punya alat masak namun itu pun tetap seminimal mungkin.

Lantas apa enaknya ya, hidup dalam segala bentuk keterbatasan? Hmm, pertama, minimalisme tidak sama dengan keterbatasan. Menjadi seorang minimalis berarti kita hanya memilih hal-hal yang esensial yang dibutuhkan. Menurut Sasaki, minimalisme adalah sebuah metode bagi seseorang untuk menemukan apa yang memang sejatinya penting bagi seseorang. Dengan demikian, kesederhanaan itu justru membawa kita pada kebahagiaan dan hidup yang lebih bermakna.

Setiap orang memiliki ceritanya sendiri untuk menjadi latar belakang, dan tidak ada aturan yang saklek tentang bagaimana menjadi minimalis. Namun yang jelas, menurut Sasaki ada beberapa hal yang bisa dijadikan awal bagi kita menjadi minimalis:

  1. Informasi dan material yang overload

  2. Perkembangan teknologi dan servis yang memungkinkan kita untuk tidak memiliki banyak hal seperti dimasa lalu.

  3. Gempa bumi di Jepang.

Alasan satu dan dua bisa jadi dengan mudah kita terima karena sangat relevan dengan yang terjadi saat ini. Informasi itu sekarang bebas dan tak terbatas, kita bisa dapatkan dimana saja dan kapan saja, bahkan seringnya kebanyakan. Tidak tahu sesuatu, kita tinggal google. Ingin tahu bagaimana caranya melakukan sesuatu, kita tinggal youtube. Bahkan kadang-kadang kita tidak ingin tahu apa-apa, teman atau sistem yang otomatis memberitahukannya kepada kita. Selain itu, teknologi yang semakin maju membuat kita semakin mudah dan praktis. Smartphone memudahkan kita melakukan banyak hal. Smartphone bahkan mungkin sudah kehilangan fungsinya sebagai telepon karena sudah beralih fungsi menjadi laptop, agenda, kalkulator, atau dengan lain personal assistant kita. Servis? Yap, siapa yang butuh punya mobil sendiri kalo ada uber dimana-mana? Kenapa musti repot kalo abang gojek siap nganter kamu ke sebuah tujuan dan juga nganterin makan malam buat kamu?

Nah, yang ketiga: gempa bumi di Jepang, mungkin terdengar tidak relevan. Namun bukankan bencana mengingatkan kita pada kematian, dan kematian bisa terjadi dimana saja, kapan saja? Plus, ketika kita mati, bukankan kita tidak membawa apa-apa?

Jadi, apakah kamu siap menjadi seorang minimalist dan menikmati hidup?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s