Curhatan “expert”

Tanggal 9 Desember 2017 yang lalu saya dihubungi oleh seorang mahasiswa akuntasi dikampus tempat saya bekerja. Dia ingin mewawancarai saya, karena ternyata selain menjadi mahasiswa, dia juga partimer di sebuat halaman untuk remaja di sebuah koran. Kebetulan minggu ini tema tulisannya tentang makan, maka dia menghubungi saya (entah dari mana rekomendasinya, saya kok lupa nanya). Ketika saya tanyakan kapan (untuk bikin janji), ternyata yang bersangkutan meminta ASAP (on call) karena hasil wawancara harus selesai paling lama……….. KEESOKAN HARINYA.

Sebenarnya agak dongkol juga, eaaah, perlunya besok pagi, sorenya baru menghubungi. Padahal sore itu saya benar-benar packed dan lelah. Namun berhubung topiknya saya banget (makan), tentu saya usahakan yang terbaik. Dan jalan tengahnya adalah saya minta dia menuliskan pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan sehingga saya bisa jawab dengan tulisan, yang saya bisa lakukan anytime disela-sela kesibukan saya sore-malam itu.

Sejam kemudian dia pun mengirimkan daftar pertanyaannya. Syukurlah malamnya saya sempat memberikan jawaban saya. Besoknya dia menghubungi saya untuk meminta foto, konon untuk profil saya. Ya jelas saya carikan foto terbaik. Sayangnya foto yang cakep filenya kekecilan terus. Hahaha.. (oke kita skip aja bagian ini). Eh sorenya, dia mengajukan saya satu pertanyaan lagi, yang langsung saya jawab. Saya rasa sih jawaban saya cukup jelas, ya.

Si mbak ini kemudian meminta saya informasi tambahan tentang tips makan, maka saya pun kemudian memberikan alamat blog saya di www.katagita.com supaya dia bisa menemukan sendiri yang dia mau, karena di blog ini banyak banget kan tips tips makan… dan ya sudah, soal wawancara itu pun usai. Saya penasara bagaimana jadinya. Sayangnya saya tidak diberi unjuk draft tulisannya seperti apa.

Seminggu kemudian, tanggal 18 Desember 2017, dia menghubungi saya untuk memberikan tulisan yang sudah selesai dibuat dan dimuat. Senang sekali rasanya, karena saya yakin melalui ini saya sedikit derecognize oleh orang (yang membaca tentu saja 😀 ). Namun sayangnya, setelah membaca saya kecewa, karena menurut saya isinya ngacoo… Huhuhuhuhu….

Saya pun protes kepada ybs, mengapa isi artikelnya ngaco dan tidak nyambung begitu….. Konon katanya, dia mengira kalau yang di web itu masih bersangkutan. Ya memang masih bersangkutan, tapi yang mana dulu nihh… Gak asal juga kan.. Huhuhuhu.. Kemudian dia saya sarankan agar lain kali bisa ditunjukkan dulu artikelnya sebelum naik cetak. Kalau salah begini kan.. DUH!

Jadi, ini dia artikel yang dia tulis:

Screen Shot 2018-01-14 at 6.42.30 PM

Masukkan keterangan

Banyak Belum Tentu Nikmat?

MAKAN sepuasnya dengan sekali bayar? Jangan kasih kendor! Lahap terus! Hayo ngaku deh,
hal tersebut pasti ada dalam benak kamu saat melihat makanan yang menggoda selera. eits, tapi ternyata, nggak semua orang akan tergiur melihat makanan dengan porsi banyak lho. Penasaran? Simak yuk penjelasan Anggita dian Cahyani SPsi mA tentang hal itu.

menurut Anggita, konsep all you can eat yang lagi kekinian di kalangan remaja memiliki dua sisi yang bertolak belakang. dosen psikologi Universitas
Bina nusantara itu juga menuturkan, makanan yang terpampang secara banyak bisa ngebuat pengunjung jadi kenyang duluan lho.

’’Seseorang yang sedang menikmati makanannya terkadang terlena dan susah berhenti. Tanpa disadari menjadi mindless eating atau dalam sekejap bisa menghabiskan banyak makanan di luar porsinya,’’ kata Anggita.

nah, dalam dunia psikologi, hal tersebut disebut orthorexia nervosa atau lebih dikenal dengan nama on. Seseorang dengan kebiasaan itu memiliki obsesi yang nggak sehat terhadap makanan sehat. istilah lainnya adalah anorexia nervosa. ’’Biasanya, orang itu akan melihat dari sisi kuantitas makanannya. Kalau udah membeludak, dia akan menjauh serta merasa kenyang,’’ tutur perempuan penyuka soto ayam tersebut.
Selain itu, kebiasaan latah atau pengin ikutan tren mendorong masyarakat untuk ikut mencicipi konsep buffet itu. Padahal, makanan yang dipesan belum tentu habis dilahap. ’’Pentingnya eksistensi di media sosial juga memengaruhi masyarakat buat ikut mencoba resto ini. Padahal, diaa belum tentu suka dengan bentuk penyajian ini,’’ ucapnya.
di sisi lain, orang dengan makan yang kebanyakan juga nggak akan merasakan kenikmatan yang hakiki. Yup, kita malah merasakan begah enggak karuan karena makan berlebihan. ’’Prinsip makan paling sederhana kan karena lapar. Kalau udah berlebih, orang jadi cenderung mager (males gerak) dan bisa membuat kinerja melamban. Harusnya kita menyadari apa yang kita makan,’’ tuturnya. (khr/co1/hth)

———————————————————————————————————————————–

Diatas adalah tulisan yang dibuat dan dimuat. Terus terang agak pusing dengan tulisannya :D. Nah, bagian yang dimerah-merahi itu yang paling membuat saya gak habis pikir, karena saya tidak pernah bilang demikian. HUHUHUHUHU… Salah kaprah sekali ya, padahal ON kan bukan tentang itu (silakan baca artikel tentang ON di sini) ETAPI, lha kok bisa jadi begitu nyambungnya disitu….

Nah makanya, melalui tulisan ini saya hendak curhat sekaligus mengkonfirmasi supaya informasi yang diberikan tidak salah. Oleh karena itu pula saya merasa perlu menampilkan disini jawaban apa yang sebenarnya saya berikan saat itu.

Q adalah pertanyaan yang diberikan, A adalah jawaban yang saya tuliskan.

Q: 1. Konsep makanan all you can eat menyajikan makanan yg banyak umumnya bikik kenyang duluan, kok bisa bu? Hubungannya dengan psikolog seseorang apaa?

A: kata siapa? belum tentu. mungkin karena penyajiannya yang tidak menarik, makananya terlalu banyak, ini yang membuat orang menjadi merasa kenyang duluan. karena terlalu terekspos membuat kita overload. tapi pada umumnya justru all you can eat membuat orang makan lebih banyak.

2. Makan sepuasnya dengan waktu terbatas, biasanya makan akan lebih banyak dengan waktu yg cepat. Baik atau tidak?

A: ya benar, karena merasa boleh makan sepuasnya, biasanya juga harganya tidak murah, membuat orang “tidak mau rugi”. akhirnya menjadi maruk dengan makan sebanyak-banyaknya. disatu sisi ada batasan waktu, membuat mereka menjadi makan dengan cepat.
Akhirnya yang terjadi adalah “mindless eating”, atau makan tanpa disadari. tau-tau habis banyak, tau-tau kekenyangan… melebihi apa yg sebenarnya kita butuhkan. kira-kira yg seperti ini baik atau tidak?
apa yang terjadi kalau makan kebanyakan? yang jelas bukannya merasakan kenikmatan, malah begah tidak karuan. plus… kalau dibiarkan terus-terusan.. hmm ya ga heran kalo timbangan terus bergerak kekanan.

3. Krn konsep makan sepuasnya kadang masyarakat umum iseng icip2 makanan yg mrk kurang suka, apakah baik seperti itu?

A: Prinsip makan paling sederhana adalah makan karena lapar dan berhenti ketika sudah cukup, sebelum kekenyangan. Selain itu kita juga harus menyadari apa yang kita makan, atau dengan kata lain menikmatinya. Sehingga ketika perut kenyng kita bisa menangkap sinyal itu dan merasa cukup. kalau kita terus makan makanan yg tidak disukai, tidak bernutrisi, bahkan tidak dibutuhkan tubuh, sehingga tubuh protes dan kita tidak merasa puas, kira-kira kita akan cari makanan yang lain lagi gak? (walaupun sebenarny perut sudah penuh)

4. Konsep makanan ayce sedang hits di remaja jaman sekarang, banyak mrk akhirnya jd ikut2an kepo nyobaik makan di ayce, gimana pendapat ibu dgn kasus remaja kyk ginii?

A: Saya sendiri menggolongkan diri sebagai orang yang suka makan. Kadang sayang juga kepo dengan makanan baru. Namun, sebelum ikut-ikutan, sangat perlu menanyakan pada tubuh: 1) apakah memang sedang lapar? 2) apakah benar benar ingin makan makanan ini?

Nah andaikata ternyata makanannya enak sekali, kadang kita terlena dan susah berhenti. ini yg kurang tepat.

sekali lagi , be a mindful. icip-icip boleh, namanya juga icip, cuma sedikit. hehehehe. tp jangan sekedar terperdaya oleh mata dan tejajah oleh lidah. listen to your body, kapan anda harus makan dan kapan anda harus berhenti makan. terdengar mudah, tapi pada prakteknya perlu latihan dan pembiasaan. namun jika ini sudah jadi kebiasaan, your body will thank to you. dengan selalu mendengarkan tubuh kita saat makan, maka tidak hanya membuat tubuh kita lebih sehat namun wellbeing kita juga akan meningkat.

Additional question:

Q: btw ini naskah psikolog, belum keliatan apa aja indikasi, alasan knp org jadi kenyang duluan sblm makan grgr liat makanan yg banyak

A: yg bilang gitu kan mbak. sy kan udah jelasin, bisa jadi efek overload exposure. kebanyakan eksposnya jd malah males. tp dalam makan biasanya kl prasmanan dan dalam keadaan kelaparan bisa malah membabi buta.

Kemudian, untuk referensi tambahan saya minta ybs membaca http://www.katagita.com. Eeeh lha kok malah jadi beginiiii… 

Pernah juga gak mengalami kejadian yang sama? Kalau sudah begini, sebaiknya harus bagaimana sih???

 

Salam huhuhuhu,

 

/katagita

Iklan