Hari Gizi Nasional 2018

IMG_3802

Hari ini adalah hari gizi nasional. Tema hari gizi tahun ini sendiri adalah pencegahan stunting dengan mewujudkan kemandirian keluarga selama 1000 hari pertama kehidupan. Mungkin kita jadi bertanya-tanya, stunting itu apa, sih?

Stunting ini adalah suatu kondisi yang ditimbulkan karena keadaan gizi kronis. Ciri yang paling mudah, anak yang mengalami stunting tinggi badannya jauh lebih rendah dari tinggi badan rata-rata anak diusianya. Selain kurang maksimalnya pertumbuhan fisik, stunting ini juga mengancam perkembangan kognitif anak.

Kita tentu tidak ingin hal-hal semacam ini terjadi pada generasi penerus bangsa ini. Bagaimana kita sanggup bersaing kalau dari segi fisik dan kognitif kita jauh tertinggal? Namun faktanya, prevalensi balita stunting masih cukup tinggi di Indonesia, yakni 37,2% (Riskesdas, 2013).

Lantas bagaimana kita bisa membantu memeranginya?

Pertama, tentu dengan cara seperti yang dijadikan tema hari gizi tahun ini: dengan sangat memperhatikan kualitas 1000 hari pertama kehidupan, yang dimulai dari sejak masih janin hingga usia 2 tahun. Asupan gizi yang berkualitas bagi ibu hamil dan menyusui, pemberian ASI eksklusif dan ASI hingga 2 tahun serta tentu saja: gizi yang berkualitas bagi anak.

Kedua, namun demikian, tidak hanya bagi ibu dan anak, perhatian pada asupan yang berkualitas seharusnya menjadi kebiasaan bagi setiap keluarga, sehingga kualitas kehidupan dan kesehatan pun terus dan menjadi lebih baik. Artinya kita perlu membangun kebiasaan hidup yang baik dikalangan keluarga. Bagaimanapun, keluarga ada pembentuk kebiasaan pertama bagi seseorang.

Tantangannya memang cukup banyak, apalagi saat ini kita hidup dilingkungan obesogenik, yakni lingkungan yang dipenuhi dengan makanan-makanan lezat namun terlalu tinggi  dan padat kalori, dan biasanya memiliki nilai gizi yang rendah.  Asal enak, memanjakan lidah, dan kenyang. Sialnya, sangat mudah bagi kita untuk mendapatkannya, bahkan hanya dengan ketikan jari, dibandingkan dengan saat mengusahakan makanan penuh gizi. Hal itu kemudian diperparah dengan keadaan lingkungan yang mengkondisikan kita semakin malas dan kurang gerak. Kombinasi antara gaya hidup sedenter plus kebanyakan makan, menjadi ancaman yang nyata namun tidak terlalu nampak serius. Tidak nampak serius dan bukan masalah saat ini, namun jika terus-terusan diikuti, akan menjadi bom waktu dikemudian hari.

Kalau sudah begini, menjadi tanggung jawab kita sendiri untuk kembali mengevaluasi kebiasaan kita sehari-hari. Apakah sudah bergizi makanan kita? Apakah sudah cukup gerak kita?

Apakah kita ingin hidup sehat dan berkualitas, kini serta nanti?

dan

Apakah sudah cukup usaha kita? 

 

Selamat Hari Gizi Nasional!

 

/katagita

Iklan