mental berkelimpahan

Selain integritas dan kedewasaan, mental berkelimpahan adalah hal yang dibutuhkan saat ingin mencapai situasi Menang-Menang. Ya, pasti semua cukup familiar dengan win-win solution ini. Hal yang saya renungkan pagi ini.

Namun yang paling menarik bagi saya adalah perihal mental berkelimpahan. Terutama disaat menghadapi kesulitan, mental berkelimpahan ini sangat-sangat membantu kita untuk dapat memilih selalu bahagia. Lantas apa itu mental berkelimpahan?

Melalui berbagai sumber saya menyimpulkan bahwa mental berkelimpahan itu sederhana saja. Sebuah kondisi mental dimana kita merasa cukup dan lengkap dengan yang ada; tidak takut pula kekurangan; sehingga kita juga tidak cemas untuk berbagi.

Orang bisa saja kaya raya, namun merasa tidak memiliki apa-apa karena terus merasa kurang. Sebaliknya, bisa saja kita miskin papa, namun karena selalu mensyukuri dan menikmati yang dipunya, rasanya ya fine-fine saja.

Saya sendiri, terus menjaga agar terus menjadi orang dengan mental berkelimpahan. Sesulit apapun hidup yang harus dijalani, merasa cukup dan lengkap dengan yang ada. Dan ajaib memang, hal tersebut membuat langkah benar-benar menjadi lebih ringan.

Saya jadi ingat kata teman saya dulu:

“Rekening Tuhan tidak terbatas, kok!” jadi ga ada yang perlu dikhawatirkan. 🙂

Nah, berhubung blog saya ini biasanya nyerempet-nyerempet soal eating behavior, mental berkelimpahan ini ternyata cukup signifikan juga lho dalam menentukan perilaku makan kita, bahkan bentuk tubuh kita.

HOW COME?

-by bus.

(Hahaha, aduh itu guyonan lama sekali ya.)

Jadi begini. Ternyata, pada banyak orang yang mengalami masalah dengan makan dan juga berat badan, mengalami krisis mental berkelimpahan ini. Berikut beberapa ciri-ciri dari sekian banyak ciri yang ada, (kalau – kalau kamu termasuk salah satunya, hehehe) :

  1. kalau ada makanan enak, pengennya cepet-cepet habisin

  2. kalau ada makanan enak, pengen lagi dan lagi

  3. kalau ada makanan enak: harus HABIS seketika, macam gak ada nanti, apalagi esok. Kadang ga cuma untuk makan enak, untuk segala jenis makanan.

Hmm udah ah tiga saja, kalo kebanyakan takut makin nyindir. Ha ha ha. Apalagi tiga hal diatas ditambahkan kata: GRATISAN. Atau sebaliknya: GUE UDAH BAYAR MAHAL. Maka semua langsung jadi ahli ekonomi: memaksimalkan keuntungan dari usaha yang (rasanya) sudah dikeluarkan. Tapi sayang kurang cermat ngitungnya, jadi cuma itungan short term saja. Kenapa short term? Ya karena kita hanya menghitung usaha yang dikeluarkan dengan yang didapatkan saat itu, namun lupa menghitung yang jauh didepan. Misalnya saja, kalau terus-terusan seperti ini, maka ibarat menanam, akan dituai nanti didepan. Nah kalau yang ditanam itu adalah overeating alias kebanyakan makan alias kelebihan kalori (juga lemak, kolesterol, dlldll), ya gimana enggak jadi masalah dibadan?

HAYO, siapa yang seperti itu? Kalau teman-teman mengalami hal itu, saran saya: ayo diubah sedikit-sedikit.

Yang namanya makan (dan minum), itu patokannya tubuh. Kalau haus, ya minum (air), kalau lapar, yang makan. Keberadaan makanan bukan patokan bahwa kita harus makan, dan bukan juga seberapa banyak kita harus makan. But your body does.

Rasa eman-eman dan rasa-rasa yang lain itu, hanya perasaan saja, kok. Makan memang harus dirasakan, tapi rasa makanannya, bukan yang lain. Kalaupun sekarang dapat mencicip makanan enak banget, yakinlah suatu saat kesempatan itu akan datang lagi. Tidak perlu lantas “gila-gilaan”. Ingat, broer, MENTAL BERKELIMPAHAN.

Dengan demikian, kita akan lebih mudah dalam mengontrol diri kita, supaya tetap waras kalau berhubungan dengan makanan (apalagi enak). Kalau untuk makanan tidak enak gimana? Misalnya karena keterbatasan finansial, hanya sanggup makan itu-itu saja? Sama, mental berkelimpahan tetap diperlukan. Bahwa kita cukup dan lengkap dengan yang ada, and enjoy the foods! Bahkan ini challenge buat kita jadi lebih kreatif, gimana supaya yang itu-itu saja bisa kita variasikan biar tidak bosan.

Selamat hari minggu dan selamat membangun mental berkelimpahan.

 

With love,

/katagita

 

Iklan