mengapa takut pada lara?

Mengapa takut pada lara

Sementara semua rasa bisa kita cipta

Akan selalu ada tenang

Di sela-sela gelisah yang menunggu reda

Hayo.. siapa yang tau diatas lirik lagunya siapa yang judulnya apa?

Yaaak! Betul! Lagunya Payung Teduh yang judulnya “Di atas meja”. Pertama bener mendengarkan lirik lagu itu, saya langsung suka pakek banget. Lagu galau sebenarnya. Mengandung keresahan. Tapi disampaikan dengan tegas, gak pake menye-menye. Kenapa saya bilang begitu, ya liat saja lirik yang saya kutip. Yang kalau diartikan superbebas bisa begini: kenapa mesti lara, sedih. Toh semua rasa itu kan masalah interpretasi diri kita sendiri atas keadaan yang ada. Kontrol yang sesungguhnya ada di kita. Mau dimaknai kemalangan, bisa. Diartikan kegembiraan, juga sangat bisa. Betul?

Memang sangat kognitif sekali ya, tapi begitulah adanya. Disatu sisi kok kesannya ada pengabaian bahwa bagaimanapun kita ini manusia yang penuh keterbatasan dan kelemahan. Boleh dooong, ngerasa lemah, lelah, gundah, gulana, gak ngerti lagi, dll dll, sekali-sekali gituuuu…. Hmm, ya, saya juga setuju pada bagian ini, ada kalanya kita memang ngerasa “gak kuat lagi!”  namun saya lebih suka concern ke bagian: bahwa disamping segala kelemahan manusia, manusia juga punya kekuatan untuk mengatur pikirannya. Kalau itu baik dan menguatkan, mengapa tidak?

Nah, soal itu pula yang konon akan jadi trend dan cara yang paling sustainable dalam masalah mengatasi gangguan perilaku makan, juga ketika ingin melakukan manajemen berat badan (yang berhubungan dengan perilaku makan). Yakni metode perawatan yang berfokus pada peningkatan kognisi yang terdistorsi tentang perilaku makan (Goldschmidt, 2017). Ya artinya, memiliki kontrol atas diri  ini pentingggg (terutama pikiran) karena merupakan kekuatan yang bisa kita miliki dan jelas-jelas bisa kita latih dan biasakan. Yang berguna bukan hanya agar hidup kita lebih bahagia, juga untuk masalah menejemen berat badan! (Gak perlu alat atau apalah jutaan rupiah, cyint! Cukup kamu saja! Ahay!)

Nah, kalau sudah begitu, kenapa kamu masih juga menye menye dan so mellow saat ini? Yes, the worst things could possibly happen as you could imagine, tapi daripada overthinking yang so consuming diri kita saat ini (misalnya aja nih, baru saja nih, baru saja,  kamu melewatkan bau hujan yang baru turun mengenai tanah yang enak banget itu baunyaaa, atau makanan didepan kamu yang rasanya sangat sangat enakkkkk gara-gara pikiranmu kemana-manaaa!), mengapa kita gak do something more positive? Enjoy and live the moment. Yang terjadi nanti, mungkin akan tetap terjadi dan yang gak enak tetap harus kita hadapi, tapi ga ada salahnya we embrace the moment,  dan belajar memaknai segala sesuatu dengan kacamata yang lebih bisa membawa kita pada bahagia, meningkatkan wellbeing kita. Toh, sekali lagi, semua itu kuncinya ada dikita. Ya gaaakk siiihhh????? 🙂

Wish you all the best,

 

with love,

/katagita

 

 

ref:
  • Goldschmidt, A.B. (2017). Are loss of control while eating and overeating valid constructs? A critical review of the literature. Obesity Review, (18), 412-449. http://doi.wiley.com/10.1111/obr.12491
Iklan