ON |ORTHOREXIA NERVOSA

HOLA!

Pusing gak baca judul diatas? Yes, babe, itu adalah ORTHOREXIA NERVOSA atau disingkat ON. Dari namanya mungkin mengingatkan kita pada istilah lain yakni anorexia nervosa. Yak, kamu benar. ON juga ada hubungannya dengan gangguan makan. Dengan AN, ON saudara, namun berbeda. Jika pasien AN tersibukkan dengan kuantitas makanan (dimana mereka bahkan gak makan samasekali), orang dengan ON tersibukkan dengan kualitas makannnya.

Jadi apakah ON itu? Well, ON adalah OBSESI  yang tidak sehat terhadap makan makanan sehat! YES, babe, bahkan makan sehat pun bisa jadi gangguan kalo kamu sudah mulai terobsesi. Lha terus, apa kita lantas gak boleh makan sehat? Eh eh eh, siapa bilang, bukan begitu maksudnya. Walaupun ON ini sendiri masih tenar diarea penelitian dan belum masuk ke Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM), kajian tentang ON ini hendaknya bisa kita ambil hikmanya. BETUL TIDAAAK? (aduh saya kok malah berasa sedang ceramah).

Yakni; APAPUN ITU, KALAU SUDAH JADI OBSESI atau BERLEBIHAN jadinya tidak baik.

Jadi, kalau teman-teman sedang berusaha untuk menjalani hidup sehat dengan makan sehat, lakukan dengan suka cita. Kenapa suka cita? Karena hati gembira itu salah satu penanda yang bisa kita pakai apakah yang kita lakukan itu masih dalam jalur atau tidak.  Kalau sudah mulai uring-uringan atau tidak ekologis, perlu dievaluasi lagi. Bisa jadi karena memang sedang fase streching karena keluar zona nyaman (yang biasanya cuma memakan waktu beberapa minggu), namun jika sudah terjadi begitu lama dan semakin memburuk uring-uringannya jika ada satu hal saja yang gak pas — oh i hope you know what i mean— , bisa-bisa sebenarnya ada yang kurang benar atau tidak tepat, atau sudah jadi gangguan itu tadi…..  Plis, yang bijak ya, teman!

Ah btw saya jadi ingat lagunya Vetty Vera..

vetty

Hidup ini jangan serba terlalu
yang sedang-sedang saja
Karena semua yang serba terlalu
bikin sakit kepala

Terlalu kaya.. jangan terlalu
Terlalu miskin.. jangan

(Terlalu tinggi?) Jangan!
(Terlalu rendah?) Jangan!
(Terlalu besar?) Jangan!
(Terlalu kecil?) Jangan!

Ho~ sedang-sedang saja
Hidup jangan dibuat susah-susah
yang sedang-sedang saja

Kamu pilih yang mana? (Kanan, kanan)
Kamu suka yang mana? (Kiri, kiri)
Kalau saya punya usul:
yang tengah-tengah saja ho hoi

Kamu pilih yang mana? (Atas, atas)
Kamu suka yang mana? (Bawah, bawah)
Kalau saya punya usul:
yang tengah-tengah saja
Bagaimana?

(Bagaimana ya? Oke!!)

Hidup ini jangan serba terlalu
yang sedang-sedang saja
Karena semua yang serba terlalu
bikin sakit kepala

Terlalu keras.. jangan terlalu
Terlalu lemah.. jangan

(Terlalu gemuk?) Jangan!
(Terlalu kurus?) Jangan!
(Terlalu panjang?) Jangan!
(Terlalu pendek?) Jangan!

Ho sedang-sedang saja
Hidup jangan dibuat susah-susah
yang sedang-sedang saja

Kamu pilih yang mana? (Ujung, ujung)
Kamu suka yang mana? (Pangkal, pangkal)
Kalau saya punya usul:
yang tengah-tengah saja ho hoi

Kamu pilih yang mana? (Depan, depan)
Kamu suka yang mana? (Belakang, belakang)
Kalau saya punya usul:
yang tengah-tengah saja
Bagaimana?

(Bagaimana ya? Oke!!)

Hidup ini jangan serba terlalu
yang sedang-sedang saja
Karena semua yang serba terlalu
bikin sakit kepala

Terlalu kaya.. jangan terlalu
Terlalu miskin.. jangan

(Terlalu tinggi?) Jangan!
(Terlalu rendah?) Jangan!
(Terlalu besar?) Jangan!
(Terlalu kecil?) Jangan!!

Ho sedang-sedang saja..

Ho sedang-sedang saja..

sedang-sedang saja..

sedang-sedang saja..

Read more: http://www.wowkeren.com/lirik/vety_vera/sedang-sedang-saja.html#ixzz4thQIaUo6

selamat karaokean. tetap sehat, tetap seimbang, tetap semangat!

love,

 

/katagita

(sumber artikel: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28251592)

Iklan

GR!

GR!

Ternyata saya GR-an. Ini yang mendadak berputar-putar dikepala saya. Gara-garanya sepele: akibat scrolling instagram, sampailah saya pada feed salah seorang mahasiswa. Sudah lama tidak melihatnya, saya pun ke laman instagram dia, hingga ketemulah dengan postingan dia dengan salah seorang kolega, yang menurut captionnya adalah sosok yang berjasa. Padahal menurut hemat saya, saya adalah sosok yang juga andil dalam proses belajarnya di perguruan tinggi, dan anak ini juga cukup dekat dengan saya. Tapi kok gak ada foto saya dipostingan instagram diaaaa? Huauauauauauaua…

Nah dari situ saya jadi kepo ke laman instagram mahasiswa yang lain dan gak juga nemuin foto saya. Hahahahaha.

Yang jelas, saya jadi sadar diri: oalah, saya ternyata cukup GR-an ya. Sering banget berpikir bahwa saya adalah sosok penting bagi orang lain. EH, ternyata tidak. 😀

Dan disisi yang lain, saya juga jadi eling bahwa saya pun sering melupakan bahwa ada banyak sosok penting dalam hidup ini yang juga sering saya lupakan. Padahal, menurut Deci (1985) salah satu kebutuhan dasar manusia itu adalah Relatedness, atau kebutuhan manusia untuk butuh dan dibutuhkan orang lain, terhubung dengan orang lain dengan tulus, merasa bahwa diri ini berkontribusi untuk bagi yang lain.

Jadi kalau saya tadi agak patah hati karena “dianggap kurang penting” bukan karena baperan, ya, tapi itu reaksi yang wajar. Hehehehehe. Dan bisa dibayangkan kalo kita macam lupa kacang pada kulitnya.. hmmm, ya wajar kalo ada yang kesel. Atau, pernah gak ada yang ngambek cuma gara-gara gak diajakin main atau tidak dikasih tau sebuah informasi -padahal yang lain tau-  yang kemudian membawa ke rasa “bahwa saya tidak penting”. It hurts people so much. OUCH! But now we know, memang tidak lantas menjadikan kita lebai juga sih, namun setidaknya kita tahu dan bisa lebih bijaksana dalam bertindak, tanpa harus menyakiti orang lain atau merasa tersakiti. Easy, easy, let’s take it, easy!

Yang jelas, memalui postingan ini, saya  ingin menyampaikan kepada semua pihak yang pernah terhubung dengan saya, baik dalam keadaan senang maupun kurang menyenangkan, saya mengucapkan terimakasih. Tanpa kalian, saya bukanlah saya yang sekarang ini.

AYAFLUU!!!! (biar kekinian).

salam,

 

/katagita

TIPS DARI RUNTASTIC

Being overweight is preventable and treatable situation. 

Itu adalah kata-kata dari runtastic. Yang bikin saya (yang overweight ini) makin semangat. Btw, hampir seminggu saya tidak joging. Penyebabnya karena saya diluar kota dan tidak punya waktu. Ah klasik banget. Namun sebisa mungkin saya tetap aktif misalnya dengan memaksimalkan langkah dan melakukan gerakan-gerakan ringan semacam squats, plank,  yang bisa dilakukan dimanapun kapanpun. Namun demikian tetap merasa tidak enak juga… Kalau sudah jadi kebiasaan dan tidak dilakukan memang rasanya jadi ada yang kurang. Nah, supaya saya gak larut dalam rasa yang gak enak ini, pagi ini saya dengarkan running story di runtastic. Ada beberapa tips praktis yang diberika, tentang bagaimana ilmu menurunkan berat badan (hmm walau idealnya dengerin ini sambil lari, bukan sambil tiduran seperti saya tadi, hahahaahaha). Tidak sulit sebenarnya, dan yaaa… itu-itu saja…

Ini dia tips yang tadi sudah dijelaskan. Tentu sesuai dengan apa yang saya tangkap dan sudah saya modifikasi kata-katanya.

YOUR JOURNEY TO WEIGHT LOSS: Practical Tips for Success

by Vera Schwaiger (runtastic team)

  1. Ngurangin makan, diet-dietan, bukanlah kunci. Kalau iya, harusnya banyak orang yang sukses soal diet. Nyatanya bermunculan berbagai jenis diet yang ditawarkan. Faktanya adalah: setiap orang tetap butuh kalori untuk energy, supaya tetap bertahan hidup walaupun tidak melakukan apa-apa sepanjang hari, atau disebut basal metabolic rate. Kemudian ada active metabolic rate atau kalori yang dibutuhkan berdasarkan aktivitas harian yang dilakukan. Basal ditambah active, kamu pun dapat rata-rata energy yang kamu butuhkan.
  2. Oleh karena itu, coba untuk bakar 500 kalori lebih banyak setiap hari melalui olahraga, atau kamu bisa menghemat 500 kalori dari makanan. Lakukan selama seminggu, maka hal itu akan setara dengan penurunan berat sebesar 0,5 kg.
  3. Tahan godaan untuk tidak ngemil setelah olahraga.. Hehehe ini yang berat, biasanya setelah olahraga pikiran kita terlalu pintar dan pede dengan berpikir “I deserve this and that”. Oh ya, tips sederhana yang lain: save calories from beverages. Minum yang cantik-cantik itu juga banyak kalorinya loh.. Jadi mendingan swap your drink to water. Karena minum minuman enak tanpa dinyana 500 kalori bisa terkonsumsi hanya dalam sekali slurp, tanpa sadar dan terasa. Belum kalo kita lihat kandungannya. Huhuhuhuhuhuhu!
  4. Nah tapi kadang tricky juga. Yang kalorinya lebih sedikit belum tentu lebih baik. Misalnya ada makanan diet produksi pabrikan yang mungkin hanya sekitar 100 kalori sekali konsumsi, sementara buah, kacang, atau sayur tertentu mungkin lebih dari itu. Nah, disinilah kita perlu lebih bijak dengan tidak hanya memperhatikan kalori, namun juga kandungan. Yang alami jelas lebih baik, dan biasanya efeknya jauh lebih baik pula untuk tubuh. Misalnya, kita jadi kenyang lebih lama, plus efek jangka panjang untuk tubuh jauh lebih baik.
  5. Ingat: don’t obsesse with CALORIES! Sekali lagi penting juga memperhatikan KANDUNGAN.
  6. Sekali lagi, kalori kita butuhkan untuk hidup. Kalori adalah bahan bakar kita, sehingga pastikan bahwa bahan bakar kita BERKUALITAS. Makan lebih sedikit belum tentu kemudian jadi turun berat badannya, karena bisa-bisa malah yoyo effect. Sekali lagi perhatikan hal-hal yang sifatnya lebih
  7. Diet-dietan tidak sehat buat tubuh, sayang gak banyak yang peduli, karena yang penting turun berat badan. Turun cepat, naek cepat, ini yang disebut yoyo effect yang efeknya justru memperlambat metabolism tubuh. Padahal metabolisme tubuh yang baik adalah asset berharga jika kita ingin menurunkan berat badan. Jangan juga dikira makan dalam porsi yang sangat kecil itu selamanya baik. Tricky! Sedikit coklat, satu butir cookies, dua gigit keripik kentang… aaah. Lama-lama menjadi bukit….. EAT MODERATELLY.
  8. Dulu… makanan musti diusahakan, dan aktivitas manusia sungguhlah banyak. Sekarang… makanan gampang banget didapatkan, sehingga kamu musti mengusakan AKTIVITAS. Pilih aktivitas yang memang kamu suka. Ikuti aturan sederhana dalam latihan: kombinasikan latihan endurance dan Misalnya saya suka jogging dan latihan dengan NTC. Keduanya membantu melunturkan lemak dan membentuk otot. Hal ini juga bagus untuk metabolism tubuhmu, bahkan disaat kamu istirahat otot terus membakar! Yeah!
  9. Stick to it at least 3 weeks. Make it habit. Beri tubuhmu kesempatan untuk “terbiasa”. If you fall, stand up and get through. Kamu bisa! That’s how we learned to walk or to ride a bike, isn’t it?
  10. MELANGKAHLAH! Pakai pedometer! Dengan ini kamu bisa lihat berapa langkah yang sudah kamu tempuh setiap hari. Hal ini membantumu untuk tetap aktif dan termotivasi . Set minimum 5000 langkah per hari
  11. Jika sudah…. set goal yang lebih tinggi lagi… 8000 steps? 10000 steps? (kalo kata iklan susu kala itu 10000 langkah/hari juga membantu mencegah osteoporosis)
  12. Starts small: tentu akan jadi memberatkan ketika kamu yang tidak pernah olahraga atau beraktivitas tiba-tiba memiliki goal: olahraga 5x/minggu atau 10000 langkah perhari? Ketika kamu tidak bisa memenuhinya, yang ada justru rasa “gagal” yang bergejolak, dan trickynya, kita jadi merasa… tidak mampu lalu ujungnya… menyerah.

Jadi, daripada demikian, sebaiknya mulai dari goal yang kecil kemudian ditingkatkan dari waktu ke waktu. Don’t too much too fast. Step by step.

  1. Start up with just a few minutes each day. Misalnya stretching 5 menit setiap kali bangun. Jalan pagi 25 menit.
  2. Kombinasikan latihan dalam aktivitas sehari-hari. Misalnya, setiap kali ke toilet, squat tiga kali. Di kursi kerja, do scissors. Walopun sederhana, kalo dilakukan setiap hari.. you will see the result.
  3. Kita selalu memperhatikan kualitas bahan bakar untuk mobil dan lain-lain, tapi justru jarang memperhatikan bahan bakar kita sendiri. Yap, bahan bakar kita kan makanan, jadi, yuk, mulai pilih bahan makanan berkualitas untuk menghasilkan yang terbaik dari kita. Dan… ini bisa dimulai diawal hari: SARAPAN.
  4. DON’T SKIP BREAKFAST. Breakfast is your engine. Important for your body and your brain. Trus sepanjang hari gimana? Makan biasa aja. Yang penting eat moderately, and choose wisely.
  5. Be smart and rely on natural fat burning cycle (4-6 hours between meals). Kalo mulai kruyuk2 diantara waktu makan? Ya minum air putih. Pastikan kalo kamu lapar. Grab fruits, kacang, ah pasti sudah tahu lah ya pilihan yang terbaik itu apa? J
  6. IT’s A MUST: DRINK WATER. Best liquid for your body. Want to add some flavor? Tinggal tambah lemon, jahe, timun, apapun yang kamu butuhkan.
  7. UNSWEETENED TEA is also choice. No soft drink. Di meksiko tingkat konsumsi soft drink sangat tinggi, dan yap, kasus obesitas disini juga tinggi. Kadang, kita berpikir bahwa “sekali-sekali” gak papa bukan? Tapi you may think it all over again: ketika kamu minum A, apakah sekali cukup? Gimana dengan teman-temannya (misanya saya, yang kalo ngeteh musti ada kue, blab la… hehehehe). Kalo alcohol bagaimana? Well, alcohol often stimulates our appetites. We crave for good midnight snack, we need a good hangover breakfast. Efeknya bisa langsung terasa dipinggang. But if it is really necessary for you like you’d die without, as long as you can keep it balance. Hmm..
  8. Nulis “nutrition diary”. Atau log book Coba tulis apa yang kamu makan setiap saat setiap hari. Lalu perhatikan polanya. Garis bawahi makanan yang berkualitas. Pelajari kebiasaanmu. Apa yang menjadi kelemahanmu, apa yang sudah baik. Pada waktu apa kamu merasa lemah, hal seperti apa yang bisa membuat kamu puas. Dari situ, kamu bisa mengelola diri dengan lebih baik dan bisa mengatasinya setiap tantangan yang muncul.
  9. Makan ketika lapar! Kalo sedikit-sedikit lapar?Sekali lagi: belajar mengelola diri. You can’t stop the wave but you can learn to surf!
  10. CRAVING? Ada beberapa pilihan yang kamu bisa lakukan: mengusir keinginanmu (yang biasanya malah jadi makin pengen), atau kamu jalan ke kulkas dan makan coklat sampe habis… lalu merasa bodoh bersalah dan tidak berdaya……

Atau pilihan yang lain: tetap datangi coklatnya. Lihat baik-baik. Cium wanginya. Potong-potong kecil. Ambil sepotong kecil. Rasakan coklat itu didalam mulutmu, rasanya, teksturnya, suhunya., hingga akhirnya kamu telan. Nikmati!. Tidak perlu banyak keeping, kamu pun bisa kembali dengan rasa puas, senang, dan tidak merasa bersalah.

Sekali lagi You can’t stop the wave but you can learn to surf! SURF THE WAVE OF TEMPTATION! MODERATION IS ALWAYS KEY.

  1. STOP CLASSIFYING FOODS as GOOD or BAD. Ingat! Semakin dilarang biasanya kita makin pengen.
  2. Selama kita makan dalam jumlah yang wajar, apapun yang kamu makan sebenarnya oke-oke aja. S dan K-nya adalah: KAMU MUSTI MENIKMATINYA.
IMG_1127 2.JPG

enjoy everything as you were in BALI

  1. Pulang kerja.. laper.. cari makan dan makan.. sambil nonton tv.. atau sambil ngobrol… tau-tau habis. Ini sering banget nih.. Makanya mulai sekarang: FOCUS on YOUR MEAL! Feel how your feeling of fullness kicks in.
  2. BE HERE AND NOW. STARTS ENJOYING EVERY SINGLE THINGS (especially foods) CONSIOULSY. BE MINDFUL! Memang kita pengen cepet-cepet kurus, langsing, tapi.. ini kan bukan roro jonggrang. Enjoy the process. Make it last forever… TAKE YOUR TIME!
  3. Dan ini adalah kunci segala kunci: KEEP GOING

 

Nah, gimana? Praktis dan bener banget, bukan? Yang jelas tips diatas membantu kita membangun kebiasaan yang sustainable,  yang tidak hanya akan membantu kita menurunkan berat badan, namun memiliki hidup yang lebih berkualitas.

Salam,

/katagita

 

You can’t stop the wave but you can learn to surf!

BECOMING MINIMALIST (1)

fumio sasaki cover.jpg

gambar dari sini

Setelah menyeleaikan buku dari Marie “The Art of Tidying Up” , saya pun tertarik dengan buku serupa: Goodbye, things on minimalist living. Sebuah esai dari Fumio Sasaki yang mengajak kita pada pengalamannya menjadi seorang minimalist. Bagaimana tidak minimalis, Sasaki hidup disebuah studio kecil di Tokyo dengan hanya memiliki tiga kemeja, empat celana panjang, empat kaos kaki dan ya sudah itu saja. Perabotan yang dia miliki salah satunya hanyalah tatanami. Ya, dia juga punya alat masak namun itu pun tetap seminimal mungkin.

Lantas apa enaknya ya, hidup dalam segala bentuk keterbatasan? Hmm, pertama, minimalisme tidak sama dengan keterbatasan. Menjadi seorang minimalis berarti kita hanya memilih hal-hal yang esensial yang dibutuhkan. Menurut Sasaki, minimalisme adalah sebuah metode bagi seseorang untuk menemukan apa yang memang sejatinya penting bagi seseorang. Dengan demikian, kesederhanaan itu justru membawa kita pada kebahagiaan dan hidup yang lebih bermakna.

Setiap orang memiliki ceritanya sendiri untuk menjadi latar belakang, dan tidak ada aturan yang saklek tentang bagaimana menjadi minimalis. Namun yang jelas, menurut Sasaki ada beberapa hal yang bisa dijadikan awal bagi kita menjadi minimalis:

  1. Informasi dan material yang overload

  2. Perkembangan teknologi dan servis yang memungkinkan kita untuk tidak memiliki banyak hal seperti dimasa lalu.

  3. Gempa bumi di Jepang.

Alasan satu dan dua bisa jadi dengan mudah kita terima karena sangat relevan dengan yang terjadi saat ini. Informasi itu sekarang bebas dan tak terbatas, kita bisa dapatkan dimana saja dan kapan saja, bahkan seringnya kebanyakan. Tidak tahu sesuatu, kita tinggal google. Ingin tahu bagaimana caranya melakukan sesuatu, kita tinggal youtube. Bahkan kadang-kadang kita tidak ingin tahu apa-apa, teman atau sistem yang otomatis memberitahukannya kepada kita. Selain itu, teknologi yang semakin maju membuat kita semakin mudah dan praktis. Smartphone memudahkan kita melakukan banyak hal. Smartphone bahkan mungkin sudah kehilangan fungsinya sebagai telepon karena sudah beralih fungsi menjadi laptop, agenda, kalkulator, atau dengan lain personal assistant kita. Servis? Yap, siapa yang butuh punya mobil sendiri kalo ada uber dimana-mana? Kenapa musti repot kalo abang gojek siap nganter kamu ke sebuah tujuan dan juga nganterin makan malam buat kamu?

Nah, yang ketiga: gempa bumi di Jepang, mungkin terdengar tidak relevan. Namun bukankan bencana mengingatkan kita pada kematian, dan kematian bisa terjadi dimana saja, kapan saja? Plus, ketika kita mati, bukankan kita tidak membawa apa-apa?

Jadi, apakah kamu siap menjadi seorang minimalist dan menikmati hidup?

first travel, umroh, dan kaya.

Postingan Adjie (@adjiesantosoputro) telah mengilhami saya membuat tulisan ini. Saya kutip postingan beliau yah:

Manusia menjadi benar-benar kaya ternyata ketika ia enggak pernah merasa punya apa-apa, jadi ia enggak pernah kehilangan apapun.

Postingan Adjie tersebut benar-banar relate dengan apa yang sedang saya alami. Seperti yang kita sama-sama tahu, salah satu kasus yang marak akhir-akhir ini adalah kasus #FirstTravel. Dan yah, saya adalah salah satu “korbannya”. Awal tahun lalu saya mendaftarkan diri dan ibuk saya, dengan harapan (awal) tahun ini kami dapat melaksanakan ibadah umroh.

Awalnya memang saya kurang yakin dengan paket umroh yang ditawarkan, karena biayanya memang jauh lebih murah dibandingkan umroh reguler. Namun berdasarkan perhitungan umroh ala backpacker, jumlah tersebut masih memungkinkan untuk ongkos umroh, apalagi jika dilakukan secara massive, maka akan lebih cukup lagi (karena mungkin agennya dapat diskon dll). Sudah begitu, beberapa teman dan saudara mengaku pernah memanfaatkan jasa umroh promo ini and all went well. Maka saya pun jadi tanpa ragu untuk mendaftarkan diri dan ibuk untuk turut serta. Bahkan saya senang dan bersyukur, karena dapat membuat salah satu cita-cita ibu saya terwujud, yakni pergi ke tanah suci.

Setelah itu saya pun sudah tidak memikirkan lagi perihal umroh, karena sudah jelas, kami akan diberangkatkan akhir tahun 2016/awal tahun 2017. Waktu itu masih sekitar awal tahun 2016 pula, jadi yang perlu dilakukan hanyalah menunggu. Saya memiliki keyakinan bahwa pergi ke tanah suci adalah rejeki yang sudah saya usahakan. Sekali lagi saya bisa mengusahakan (dengan mendaftar) namun apakah kemudian saya pergi atau tidak -seperti halnya rejeki- itu masih misteri.  Bisa saja kan, saat tanggal yang diberikan muncul, saya pas tidak bisa karena berbagai macam hal. Padahal menurut perjanjian, jamaah yang mendaftar program promo tersebut harus bersedia dengan tanggal yang ditetapkan.

Sampai akhirnya tahun 2017 datang. Kemudian menyusul bulan-bulan diawal 2017, hingga saat ini, 4 bulan menjelang akhir tahun. Saya sendiri memang sempat mendengar selentingan soal ketidakberesan #FirstTravel yang mulai tercium, namun sekali lagi saya tidak begitu peduli. Ketika merasa ingin tau kejelasan soal keberangkatan umroh kami yang saya lakukan hanyalah mengemail pihak #FirstTravel, atau meminta Ibu menelpon pihak #FirstTravel. Selama diberikan jawaban baik-baik (untuk menunggu) saya pun percaya saja. Sekali lagi, kesempatan ke tanah suci adalah sebuah bentuk rejeki yang tidak bisa dipaksakan.

Hingga akhirnya kasus #FirstTravel ini semakin ramai. Saya pun kemudian bergerak untuk memastikan hak saya. Kalau boleh jujur, saya malas ribet-ribetan. Uang 30 juta masih bisa dicari, dan  yang namanya rejeki itu sudah diatur, namun bagaimana dengan Ibuk saya? Beliau sangat bersukacita waktu saya informasikan soal rencana berangkat umroh bersama. Beliau sangat antusias mempersiapkan banyak hal. Namun yang membuat haru adalah: Ibuk saya rupanya juga mengikuti perkembangan berita ini, namun karena melihat saya kalem beliau pun tidak berani mengutarakan kepada saya soal kegundahan hatinya. Beliau tidak ingin anaknya makin pusing dengan kemungkinan penipuan ini. (Percayalah Buk, aku tidak pusing karena rejeki tidak akan tertukar. Justru aku sedih karena belum jadi memberangkatkan Ibuk ke tanah suci. Terimakasih ya, Buk sudah memikirkanku).

Oke, kembali ke postingan Adji. Postingan tersebut telah membantu saya makin meyakini bahwa langkah tenang yang saya ambil atas kejadian ini sudah sangat tepat. Sejalan dengan keyakinan saya bahwa ke tanah suci adalah rejeki yang sudah saya usahakan. Soal hasil akhir, adalah kuasa Allah. Kalau memang rejeki kami berangkat ya berangkat, entah bagaimana jalannya; jika tidak ya tidak.

Selain itu, saya juga belajar dari sosok pemilik #FirstTravel yang jadi sorotan. Mereka patut diacungi jempol, bahwa sangat mungkin membangun bisnis dari bawah dan menjadi besar. Sayangnya saat diatas entah mengapa kemudian terjerembab, dan sayangnya lagi harus membawa banyak pihak yang harusnya tidak terbawa (seperti saya) ikut merasakan jatuhnya. Hehehehe.

Semoga mbak Anisa dan pasangannya juga mengamini postingan Adji diinstagram, bahwa kaya itu adalah ketika tidak merasa punya apa-apa sehingga ketika tidak ada, tidak merasa kehilangan apa-apa. Mudah-mudahan gak sulit ya, setelah mereka merasakan situasi kemewahan. Ohya satu lagi pembelajaran dari mereka, andaikan nanti nasib yang lebih baik menghampiri, tidak perlulah ikut terseret arus kemewahan. Hidup sederhana adalah kunci hidup bahagia (dan akhirnya jadi gak kebanyakan masalah, hehehe).

Hmm, baiklah.

 

Jakarta, 15 Agustus 2017

 

/katagita

Ketika Maslow Menyadarkan Saya untuk Tidak Diet Lagi

Apa sih yang membuat orang terus bergerak dan hidup? Konon adalah motivasi, motivasi inilah yang membuat kita tetap maju dan dengan lantang selalu menyanyikan “the show must go on” apapun yang sedang dan akan kita hadapi didepan.
Oleh karena itu, banyak sekali kajian tentang motivasi yang dilakukan, karena ya itu tadi, motivation keeps us alive, motivation makes us go beyond and further. Motivasi konon adalah prediktor dari setiap keberhasilan dan capaian kita. WOW.

Termasuk ketika kita mau mengatur berat badan. Perlu motivasi tinggi dan kuat, cint! Kalau tidak, yaaaa… belum-belum udah nyerah. Apalagi, buat kalian yang seneng dan hobi banget diet. Diet karbo lah, diet paleo lah, diet atkins lah, diet keto, lah. Semua butuh kedisiplinan dan juga of course, to keep itu going we need to stay motivated. Apalagi jika diet yang sedang kamu lakukan adalah hal yang sama sekali berbeda dengan perilaku makan sehari-hari kamu. Dan itu gak mudah lho. Hehehe.

Oke, kembali ke isu tentang motivasi. Jadi tidak heran jika banyak sekali teori yang membahasa tentang motivasi. DAN, berhubung yang akan saya tulis ada hubungannya dengan makan, diet, maka yang saya angkat saat ini adalah salah satu teori motivasi klasik yakni teori motivasi dari Maslow (1928) “The Hierarchy of Needs”. Kenapa teori Maslow, karena menurut Maslow, people keep motivated karena mereka berusaha memuhi kebutuhannya, yang bentuknya seperti piramida. Dimuai dari kebutuhan fisiologis sebagai dasar dari piramida kebutuhan, hingga kebutuhan untuk aktualisasi diri. Oke, buat yang belum familiar, begini gambarnya:

maslow

Nah, lantas kenapa saya bawa-bawa teori motivasi Maslow untuk membahas soal makan dan diet? Karena, pagi tadi saya seperti mendapat AHA momen (ini alasannya ga banget sih ya?, hehehe) LHO, KALAU KEBUTUHAN FISIOLOGIS DAN RASA AMAN ADALAH PONDASI KEBUTUHAN MANUSIA, BISA DIBAYANGKAN DONG, APA YANG TERJADI JIKA KEDUANYA DITEKAN?
Heh maksudnya? Ya bayangin aja, kalau diet kan artinya you are lacking of something (namely FOODS) and you feel UNSAFE dengan apa-apa yang kamu lakukan (yang masih berhubungan dengan makan), you do not allowed to eat this (WHICH ACTUALLY YOU LOVE), musti ini jam segini, musti yang begini yang boleh,…………. HALAH.
Sampai disini saja we may conclude that IT WON’T BE WORKING.
Jadi apa yang saya mau tulis disini adalah Maslow menyadarkan saya untuk: STOP DIETING.

Apakah itu kemudian berarti saya sedang meminta semuanya untuk seenak jidat dengan makan? ENGGAK. What am I going to say is: you need to change your mindset. Why? Karena membatas-batasi diri untuk gak boleh ini itu apalagi berhubungan dengan kebutuhan dasar bukanlah sesuatu yang bijak. Alih-alih diet, change your habit into something healthier. Percuma berbulan bulan kamu menahan-nahan ga makan ini ga makan itu, tapi kemudian setelah berat idaman tercapai, kamu makan seenaknya lagi. Kembali kekebiasaan yang tidak sehat lagi. Malah kasian tubuhmu dipermainkan.

Katanya, dengan usaha yang sama menghasilkan result yang beda adalah gila. Jadi, kalau kamu pensiun diet, kembali kekebiasaan lama dan mengharap hasil seperti saat diet, artinya kamu gila.

EAT WHENEVER YOU ARE HUNGRY,
EAT WHATEVER YOUR BODY NEEDS
(and yeah, body needs nutritious foods)

success-is-being-at-peace-with-yourself

(Lho, lho jadi ini tulisan maksudnya apa? Maslow gimana?

Udah ah, saya mau naek kereta dulu. Kapan –kapan dilanjut. See you in a bit!)

 

Happy weekend,

 

/katagita

Mengamalkan Pancasila

Kemarin, 1 Juni, adalah hari lahirnya pancasila. Minggu ini juga dijadikan sebagai pekan Pancasila. Pas pula dengan isu keberagaman yang sedang dipertanyakan dinegara kita tercinta ini. Didukung dengan kemudahan dan popularitas social media, maka tagar #sayapancasila #sayaindonesia #pekanpancasila lengkap dengan unggahan foto dengan template yang sama pun marak dimana-mana. Saya pun termasuk yang ikut meramaikan, dan juga salah satu yang merasa bangga dengan Pancasila dan merasa berjiwa Pancasila.

Namun postingan Nina Moran diinstagram pribadinya membuat saya bertanya-tanya, “Oh iya ya, apa benar saya Pancasila?” jangan-jangan saya cuma ikutan trend. Nina Moran mempertanyakan hal yang sama, ini orang pada ramai-ramai mendeklarasikan  bahwa #sayaPancasila, mengapload gambar mereka berdampingan dengan Pancasila, tapi apa benar mengamalkan Pancasila itu sendiri? Menjadikan Pancasila sebagai dasar kehidupan sehari-hari?

Nah, sebagai salah seorang yang “tersentuh” (kalau ga mau dibilang tersindir, hehehe) saya pun segera menjelajah butir-butir Pancasila. Butir-butir ini sebenarnya bisa kita maknai sebagai panduan praktis ketika kita mau mengamalkan Pancasila. Ohya, butir-butir Pancasila ini sudah tidak berjumlah 36 lagi kayak waktu di SD (lah ketauan umur), namun sudah menjadi 45.

Berikut butir-butir tersebut:

Sila pertama: Ketuhanan Yang Maha EsaBangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

1.      Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

2.      Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

3.      Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

4.      Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

5.      Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.

6.      Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab

1.      Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

2.      Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

3.      Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.

4.      Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.

5.      Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.

6.      Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

7.      Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

8.      Berani membela kebenaran dan keadilan.

9.      Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.

10.  Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

Sila ketiga: Persatuan Indonesia

1.      Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

2.      Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.

3.      Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.

4.      Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.

5.      Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

6.      Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.

7.      Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaran / perwakilan

1.      Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.

2.      Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.

3.      Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.

4.      Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.

5.      Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.

6.      Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.

7.      Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

8.      Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.

9.      Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.

10.  Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

Sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

1.      Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.

2.      Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.

3.      Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

4.      Menghormati hak orang lain.

5.      Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.

6.      Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.

7.      Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.

8.      Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.

9.      Suka bekerja keras.

10.  Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.

11.  Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Nah, praktis sekali bukan sebenarnya, butir-butir Pancasila itu untuk kita gunakan sebagai panduan hidup kita sehari-hari? Pssst… Kalau saya masih ada PR disila 4 butir 2 (masih suka memaksakan kehendak 😀 ) dan juga sila 5 butir 7 (mentang-mentang dah bisa cari duit sendiri trus suka boros. #uhuk ). Untuk yang saya merah-merahi, waah… PR juga, tapi buat siapa? Kepercayaan itu kan sebenarnya refleksi dari bagaimana wakil yang (dulunya) kita percaya bisa dipercaya? (#uhuk juga). Hmmm,

Eniwey. Baiklah. Saya akan belajar kembali bagaimana menjiwai Pancasila dengan sesungguhnya, yakni dengan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Karena, saya masih memiliki harapan besar pada Indonesia.

Kalau sudah cinta dan mendarah daging, kadang kesel, kadang kecewa, namun tetap saja cinta. Gak bisa jauh-jauh darinya. Mau kemanapun juga, disinilah aku kembali. Indonesia, marilah kita menjadi bersama. Hidupku cuma sekali, tentu tak akan kusia-siakan ini. Bersamamu. Indonesia. 

Bagaimana dengan kamu??? 

pancasila.jpeg

#sayaPancasila #sayaIndonesia

 

salam,

/katagita