first travel, umroh, dan kaya.

Postingan Adjie (@adjiesantosoputro) telah mengilhami saya membuat tulisan ini. Saya kutip postingan beliau yah:

Manusia menjadi benar-benar kaya ternyata ketika ia enggak pernah merasa punya apa-apa, jadi ia enggak pernah kehilangan apapun.

Postingan Adjie tersebut benar-banar relate dengan apa yang sedang saya alami. Seperti yang kita sama-sama tahu, salah satu kasus yang marak akhir-akhir ini adalah kasus #FirstTravel. Dan yah, saya adalah salah satu “korbannya”. Awal tahun lalu saya mendaftarkan diri dan ibuk saya, dengan harapan (awal) tahun ini kami dapat melaksanakan ibadah umroh.

Awalnya memang saya kurang yakin dengan paket umroh yang ditawarkan, karena biayanya memang jauh lebih murah dibandingkan umroh reguler. Namun berdasarkan perhitungan umroh ala backpacker, jumlah tersebut masih memungkinkan untuk ongkos umroh, apalagi jika dilakukan secara massive, maka akan lebih cukup lagi (karena mungkin agennya dapat diskon dll). Sudah begitu, beberapa teman dan saudara mengaku pernah memanfaatkan jasa umroh promo ini and all went well. Maka saya pun jadi tanpa ragu untuk mendaftarkan diri dan ibuk untuk turut serta. Bahkan saya senang dan bersyukur, karena dapat membuat salah satu cita-cita ibu saya terwujud, yakni pergi ke tanah suci.

Setelah itu saya pun sudah tidak memikirkan lagi perihal umroh, karena sudah jelas, kami akan diberangkatkan akhir tahun 2016/awal tahun 2017. Waktu itu masih sekitar awal tahun 2016 pula, jadi yang perlu dilakukan hanyalah menunggu. Saya memiliki keyakinan bahwa pergi ke tanah suci adalah rejeki yang sudah saya usahakan. Sekali lagi saya bisa mengusahakan (dengan mendaftar) namun apakah kemudian saya pergi atau tidak -seperti halnya rejeki- itu masih misteri.  Bisa saja kan, saat tanggal yang diberikan muncul, saya pas tidak bisa karena berbagai macam hal. Padahal menurut perjanjian, jamaah yang mendaftar program promo tersebut harus bersedia dengan tanggal yang ditetapkan.

Sampai akhirnya tahun 2017 datang. Kemudian menyusul bulan-bulan diawal 2017, hingga saat ini, 4 bulan menjelang akhir tahun. Saya sendiri memang sempat mendengar selentingan soal ketidakberesan #FirstTravel yang mulai tercium, namun sekali lagi saya tidak begitu peduli. Ketika merasa ingin tau kejelasan soal keberangkatan umroh kami yang saya lakukan hanyalah mengemail pihak #FirstTravel, atau meminta Ibu menelpon pihak #FirstTravel. Selama diberikan jawaban baik-baik (untuk menunggu) saya pun percaya saja. Sekali lagi, kesempatan ke tanah suci adalah sebuah bentuk rejeki yang tidak bisa dipaksakan.

Hingga akhirnya kasus #FirstTravel ini semakin ramai. Saya pun kemudian bergerak untuk memastikan hak saya. Kalau boleh jujur, saya malas ribet-ribetan. Uang 30 juta masih bisa dicari, dan  yang namanya rejeki itu sudah diatur, namun bagaimana dengan Ibuk saya? Beliau sangat bersukacita waktu saya informasikan soal rencana berangkat umroh bersama. Beliau sangat antusias mempersiapkan banyak hal. Namun yang membuat haru adalah: Ibuk saya rupanya juga mengikuti perkembangan berita ini, namun karena melihat saya kalem beliau pun tidak berani mengutarakan kepada saya soal kegundahan hatinya. Beliau tidak ingin anaknya makin pusing dengan kemungkinan penipuan ini. (Percayalah Buk, aku tidak pusing karena rejeki tidak akan tertukar. Justru aku sedih karena belum jadi memberangkatkan Ibuk ke tanah suci. Terimakasih ya, Buk sudah memikirkanku).

Oke, kembali ke postingan Adji. Postingan tersebut telah membantu saya makin meyakini bahwa langkah tenang yang saya ambil atas kejadian ini sudah sangat tepat. Sejalan dengan keyakinan saya bahwa ke tanah suci adalah rejeki yang sudah saya usahakan. Soal hasil akhir, adalah kuasa Allah. Kalau memang rejeki kami berangkat ya berangkat, entah bagaimana jalannya; jika tidak ya tidak.

Selain itu, saya juga belajar dari sosok pemilik #FirstTravel yang jadi sorotan. Mereka patut diacungi jempol, bahwa sangat mungkin membangun bisnis dari bawah dan menjadi besar. Sayangnya saat diatas entah mengapa kemudian terjerembab, dan sayangnya lagi harus membawa banyak pihak yang harusnya tidak terbawa (seperti saya) ikut merasakan jatuhnya. Hehehehe.

Semoga mbak Anisa dan pasangannya juga mengamini postingan Adji diinstagram, bahwa kaya itu adalah ketika tidak merasa punya apa-apa sehingga ketika tidak ada, tidak merasa kehilangan apa-apa. Mudah-mudahan gak sulit ya, setelah mereka merasakan situasi kemewahan. Ohya satu lagi pembelajaran dari mereka, andaikan nanti nasib yang lebih baik menghampiri, tidak perlulah ikut terseret arus kemewahan. Hidup sederhana adalah kunci hidup bahagia (dan akhirnya jadi gak kebanyakan masalah, hehehe).

Hmm, baiklah.

 

Jakarta, 15 Agustus 2017

 

/katagita

Iklan

Apa yang kamu yakini ketika kamu sendiri tidak dapat membuktikannya?

Saat ini saya sedang membaca sebuah buku yang berjudul The Decision Book: Fifty models for strategic thinking. Sampailah pada sebuah halaman yang menuliskan tentang the unimaginable model. Bagian ini menjelaskan bahwa memang ada hal-hal yang kita yakini namun memang tidak bisa dibuktikan, atau ditunjukkan. Apa yang saya tangkap sih bahwa kita tidak perlu berpusing-pusing. Kata Immanuel Kant: jika kita bisa membayangkannya, maka ia harus ada. Kant memang menentang empirisme dan rasionalisme.

Anyway, bukan itu yang saya mau tulis disini. Saya suka filsafat namun yang ingin saya tulis disini adalah sebuah puisi yang tiba-tiba muncul setelah membaca tentang the unimaginable model ini. Ya, puisi.

(Jadi, saya menulis soal Kant dan membawa-bawa pertanyaan filosofis supaya puisi saya tidak dianggap menye-menye, hehehehe. )

Here we go.

Cintaku salah.

Namun aku punya pembelaan.

Yang juga diamini banyak orang.

Bahwa cinta tidak bisa memilih.

Aku sudah dipilih cinta.

Dan aku pun memilih untuk mencinta.

Mencinta membuatku terus merasa.

Mencinta membuatku terus bergelora.

Dan gelora itu yang membuat aku hidup.

Aku jadi bertanya atas pernyataan pertama:

apakah cintaku salah?

Atau

Ada hal yang tidak aku tau?

Ah, putusku.

Lebih baik aku tidak tahu.

 

/ADC.

Jogjakarta, 25 Mei 2017.

Tips berharga dalam berlari :)

Bulan Juli nanti, saya akan mengikuti acara run race, dan saya akan turun di 10K. Oleh karena itu, mulai dari saat ini dan beberapa minggu yang lalu saya mulai mempersiapkan diri. Yap, tentu saja mempersiapkan diri supaya akhir Juli nanti saya bisa jadi finisher 10K plus note: tidak malu-maluin catatan waktunya.

Lari memang bukan hal baru buat saya. I love running. Hanya saja, karena rasa cintanya tidak pernah dipupuk, seringnya masih kalah dengan rasa malas. Sampai akhirnya saya kembali mendaftar diacara lari seperti yang akan saya ikuti Juli nanti, dan mau  tidak mau saya pun harus making a very good preparation.

Agak flashback, lari terjauh yang pernah saya lalui sekitar 8 km, tapi jangan tanya, itu tempo siput. Kalau tidak salah hampir sejam atau bahkan sejam lebih saya mencapainya. Saya ingat betul, itu terjadi di Groningen. Saya lari bersama salah satu teman dari Indonesia yang kebetulan tidak kuat lari (katanya) sehingga dia lebih banyak jalannya daripada larinya, sehingga saya bisa cuma lari-lari kecil manja tanpa banyak tenaga. Kemudian dipadu dengan kala itu kami kesasar, sehingga jarak 8 km bisa saya lalui tanpa terasa. Namun yang membuat saya bangga: saya lari sepanjang 8 km itu, tanpa berhenti (jalan). Haha!

Oke kembali ke persiapan untuk 10K. Beberapa kali saya lari di CFD Sudirman. Cukup kaget juga setelah puluhan purnama tidak lari, hari itu saya kuat 5K tanpa henti. Mungkin karena saat itu saya berlari bersama teman yang mensupport saya dengan sabarnya. Minggu berikutnya, saya kembali melatih diri dengan berlari disebuah lapangan bola. Hanya saja, baru 2km lari saya terhenti: antara kram perut (kebetulan sedang period) dan juga saya kalah menghadapi diri sendiri. Kayaknya berat banget. Ya sudah saya pun tak lari lagi. Tapi btw, hipotesa saya yang lain: tidak ada supporter saat berlari, sehingga saya menyerah begitu saja saat ada keinginan berhenti.

Tidak hanya berlari, saya pun mencoba mempelajari teknik berlari dan juga hal-hal yang dapat mendukung agar kuat berlari. Tentu saja saya juga banyak bertanya dan mendengar nasehat kawan-kawan yang jago lari. Namun, mengobservasi diri sendiri itulah yang terpenting menurut saya. Kenapa? Karena lari itu seperti halnya sifat manusia: sngat individual. Memang ada aturan universal, namun yang berlaku untuk orang A belum tentu cocok untuk B namun bisa jadi oke bagi orang C.

Eniwe, pelajaran yang paling berharga dari proses persiapan yang saya lakukan beberapa minggu ini saya dapatkan saat saya lari lapangan bola. Apakah itu? Jadi insight ini saya dapatkan setelah disalip mbak-mbak yang berlari dengan sepatu mirip converse dan baju flanel. Hohoho, that’s true, i don’t just make it up. Nah dari situ saya pun mengalami AHA moment. Segala macam teori, persiapan, apapun itu, kalah dengan lari itu sendiri. Percuma kebanyakan teori kalau akhirnya kamu enggak lari, atau membiarkan dirimu terus berlari. Maksudnya?

you want to run?

JUST RUN!

 

Salam,

 

/katagita

KENAPA DOSEN

Kadangkala, tetiba muncul pertanyaan pada diri sendiri: kenapa profesi dosen ya, yang dipilih? Kenapa tidak kerja di perusahaan X. Menduduki posisi tertentu. Yang tentu sangat keren. Kantornya juga diseputaran Sudirman/Kuningan. Necis lah.

Saya mau jawab: takdir. [Hmm.. Selesai dong tulisan kali ini.  ]

Yang jelas, jadi dosen itu sudah saya rencanakan dari saat masih SD. Pun saat mengirimkan tulisan disebuah kolom di sebuah koran lokal Jogja dan terdapat pertanyaan “cita-cita”  jadi gurunya mahasiswa adalah jawaban saya kala itu. Visioner sekali ya?

Hm, kembali ke pertanyaan awal: kenapa jadi dosen? [Tetap susah, makanya pertanyaan diawal tulisan ini masih suka muncul]. h

Oleh karena itu, saya akan membuat beberapa list mengapa jadi dosen itu menyenangkan. Untuk membantu saya menjadi lebih bersyukur! [dan semoga menginspirasi -atau jadi mikir-mikir- andaikan ada yang mau jadi dosen juga. hihihihihi]

  1. Jadi dosen bikin awet muda. Saat pertama mengajar, jarak usia dengan mahasiswa tidak begitu jauh. Semakin kesini, tentu jaraknya nambah :D. Tapi bukannya membuat saya merasa jadi lebih tua, berinteraksi dengan para mahasiwa justru mereka membuat saya merasa muda terus tiap hari. Saya jadi tahu mode terbaru, saya jadi update dengan bahasa gaul kekinian. NTEP SOUL, LAH! 😉

  2. Jadi dosen itu bisa bikin iri orang kantoran. hihihi.  Seringnya dianggap sebagai pekerjaan yang nyantai! Jadi  ceritanya, ketika ditanya temen “ada gak kelas hari ini” trus saya jawab  “tidak ada” atau “lagi enggak ngajar” atau “lagi libur semester!”,  temen pun sukanya merespon dengan “enak yaaa… jadi dosen! mahasiswa libur, dosen libur.” (Padahal ya enggak juga, ada beberapa kewajiban yang musti dipenuhi selain mengajar: meneliti, mengabdi pada masyarakat, dan mengembangkan diri. kadang sibuknya bisa melebihi mentri!) Tapi justru ini yang bikin senang. Dikira santai kayak dipantai, padahal produktifnya ngalah2in Luxemburg (based on time.com, Luxemburg is the most productive country in the world!) ehehehehe.

  3. Jadi dosen itu, walau bayarnya sedikit, tapi kita dianggap sebagai sosok yang kredibel. Terpercaya. Makanya namanya dosen kan, ngomonge sak dos, bayarane sak sen. Hihihihihihi…

  4. Ahh.. udah ah, intinya, I LOVE MY JOB. Jadi, kalau diminta menguraikan alasannya, pasti adaaaa………… aja. Iya gak?

Kalau kamu, apa yang membuat kamu dipekerjaanmu yang sekarang???

love,

/katagita

WhatsApp Image 2017-04-21 at 8.36.41 PM

coba liat, kalo ga dosen gimana bisa seru-seruan ama mahasiswa begini? 😀

love body

Saya selalu suka mengikuti sosial media penggiat “LOVE BODY MOVEMENT”, khususnya saat ini, melalui account instagram.  Yang saya maksudkan dengan love body movement adalah segala macam bentuk aktivitas yang intinya adalah mendukung agar kita dapat lebih mencintai tubuh kita sendiri. Mencintai berarti menerima apa adanya, mencintai berarti tidak malu dengan keadaannya, mencintai berarti merasa nyaman dengannya.

Kenapa?

Karena saya sendiri memiliki ketidaknyamanan dengan tubuh ini. Saya merasa malu dan tidak nyaman karena tubuh saya memiliki banyak strechmark. Kulit saya tidak elastis, sehingga perubahan berat yang terjadi menyisakan kenangan yang nyata berupa strechmark. Belum lagi selulit. Kulit saya adalah tipe kulit jeruk, yang semakin kesini, nampaknya selulit makin meraja lela! Inilah yang kemudian membuat saya merasa tidak sendiri. Dengan keberadaan mereka yang sangat supportive, agar mencintai tubuh sendiri. Hal ini membuat saya menjadi lebih percaya diri.

Kamu tau? Seksi yang sebenarnya itu adalah KEPERCAYAAN DIRI YANG KITA MILIKI!

BODY LOVING VS PORNOGRAFI (DAN CAPER)

Sayangnya, lingkungan sosial kita saat ini tidak terlalu mengijinkan seseorang untuk dapat dengan gamblang menjadi seorang pendukung body movement seperti yang sering dilakukan diluar sana. Biasanya, penggiat love body movement tidak segan-segan untuk menampilkan bagian tubuh mereka yang, dalam kultur kita, adalah bagian yang kurang sopan untuk ditampilkan dimuka umum. Saya paham,  buka-bukaan ini karena banyak orang yang merasa insecure dengan bagian-bagian tubuhnya yang tersembunyi. Misalnya saja perut, atau bagian-bagian lain yang rawan strechmark seperti lengan, pinggul, paha atas.  Jadi ya salah satu cara bahwa “it’s ok to have that scars” ya dengan cara menunjukkannya pada dunia. Lha tapi kalau misalnya tetiba saya yang foto pakai bikini sehingga teman-teman yang lain bisa melihat bahwa: hei! I have the same issue, maybe worse, but it won’t bother me at all! you are not alone! Bisa gempar dunia persilatan! Yang ada dikira lagi stress atau cari perhatian. Atau malah dianggap sebagai bentuk pornografi. Alamak!

Lalu?

Well, saya akan memutar otak dan mengerahkan segala daya kreativitas saya untuk mensupport love body movement ini, versi saya, versi Indonesia. Any idea?

Love,

 

/anggita

 

Screen Shot 2017-04-20 at 10.49.22 AM

postingan saya diblog yg lain (too bad i didnt remember the login-pswd). THAT ONE DAY I WILL MAKE THE SAME POSE! (with that confident!)

eyelasheXtension

Halooo!! Been a while.

Dan dipost baru setelah sekian lama menghilang ini, hal yang mau saya tuliskan adalah tentang pengalaman memakai bulu mata ekstensi. YAP! bulu mata tapi disambung! Hahhahahaha  LUAR BIASA sekali ya teknologi saat ini.

Memiliki bulumata tebal dan indah tentu adalah keinginan banyak wanita, apalagi saya yang memiliki bulu mata tipis dan pendek. Nah, berhubung sekarang ini ada sebuah kecanggihan yang disebut eyelash extension saya pun mencobanya. Sebenarnya teknologi ini tidak baru, namun berhubung saya yang baru bisa menjangkau, ya… Hehehehe…

Setelah melakukan riset, saya pun memutuskan untuk melakukannya di @lashtiqueid . Deg-degan juga sebenarnya, gimana kalo misalnya sesakit memakai bulumata palsu??? (fyi, selain tidak bisa memasang bulu mata palsu, mata saya tidak bisa dipasangi bulu mata palsu juga, sekalinya dipasangi langsung merah seperti mata drakula). Pada hari yang sudah disepakati, saya pun ke salah satu cabang lashtique di Lippo Mall Puri.

Akhirnya… setelah 2 jam menutup mata (dan tertidur), saya pun dibangunkan dan ketika mengaca… alamak! antara “seperti mimpi jadi nyata” dan agak kaget karena dramatis banget bulu mata saya jadinya :D. Bulu mata yang tadinya hanya bisa saya lihat di tivi-tivi dan yang selalu saya kagumi pun jadi milik saya. Hahahahah!

IMG_6151

Begitulah ceritanya, bulu mata impian pun jadi milik saya selama beberapa waktu, hingga sempat retouch sekali (memperbaiki dan menambah yang mungkin sudah rontok). Namun akhirnya, kemarin saya pun memutuskan untuk tidak lagi menggunakan eyelash extension ini. Kenapa? Saya merasa sudah cukup saja, sudah dapat pengalaman mencoba and it was wonderful 🙂 . I love eyelash extension, but it is just not for me. Memiliki bulu mata indah adalah salah satu impian dalam #bucketlist saya, sudah jadi nyata selama beberapa saat. Jadi  sudah cukup, hehehe. Nah tapi kan rugi kalau berlalu begitu saja, jadi saya share saja pengalaman itu disini 🙂

So, sebagai catatan, berikut saya list beberapa hal tentang: Apa saja yang musti diperhatikan kalau kamu pengen pakai eyelashextension?

  • pilih tempat memasang yang berkualitas. kenapa? ya.. mata ini lho yang mau dianeh-aneh. kalau sampai hanya karena beda sedikit lalu berabe kan ngeri, ya. Hehehehe.
  • pastikan kemampuan finansial kamu memang memadai. cukup pricey, dan harus telaten beberapa minggu sekali kamu musti retouch.
  • selain finansial memadai, pastikan kamu juga ada waktu untuk melakukan retouch bulumata ini. it takes 2 hours, plus transpor ke tempat pemasangan.
  • siapkan dirimu mengubah beberapa kebiasaan. Misal: saya biasa cuci muka air hangat, tidak diperkenankan kalau pakai eyelash extension. Jadi cuci muka air dingin deeeh. Saya biasa mandi dibawah shower dengan air yang mengalir, namun engingat bulu mata yang tidak boleh kena air anget, mandi pun musti dimodifikasi. Saya suka sekali pakai eyeliner, namun karena pake eyelash extension tidak lagi pakai. Selain karena udah cakep :p, eyeliner kan perlu dibersihkan tiap hari, laaah, bisa-bisa bulumata ikut bersih dooong… Hehehhe…. dll (you will find out once you’ve tried).

Hmm, rasanya itu saja sih. Selain: siap-siap jadi CANTIK banget. Hahahahaah! Sumpah, sampai detik ini saya masih memuja mereka yang memiliki bulu mata tebal dan lentik.  Jadi, gimana, mau ikut-ikutan coba pakai eyelash extension seperti yang pernah saya lakukan?

salam,

/katagita

image1

“I was born to be REAL, not to be PERFECT.”

Runtuh

566201_311317872312634_269124426_n

Ini bukan hanya kisah tentang Alfie, anjing yang ada pada gambar diatas. Namun ini adalah tentang bagaimana saya yang.. tiba-tiba bisa hilang rasa takut pada anjing, setelah bertahun-tahun (atau puluhan tahun?) lamanya saya takut dengan anjing.

Begini ceritanya. Awal mula ketakutan terhadap anjing adalah karena saya pernah digigit anjing sewaktu kelas 1 SD. Yang jelas dengan tubuh ringkih (fyi waktu itu badan saya kurus kering, hahaha), seekor anjing yang baru saja beranak menggigit bagian belakang lutut saya. Hahaha, kalau ingat peristiwa itu saat ini, antara geli dan miris rasanya. Yang jelas, gara-gara gigitan itu saya harus menerima banyak suntikan ditubuh kurus kering itu (kalau gak salah suntik rabies, ya?). Dan efek yang lebih nyata lagi setelahnya adalah saya jadi takut anjing. Setiap ada anjing, rasanya dada ini mau copot, berdetak kencang, dan lutut lemas (eh ini takut anjing apa jatuh cinta ya, kok rasanya sama? #eaaa). Terus saja begitu, bahkan saya pernah hampir semaput ketika tiba-tiba ada anjing besar yang mendadak menyalak disamping saya (padahal berbatas pagar).

Anyway. Saya lanjutkan kisah ini ya. Sebelum Alfie, sebenarnya ada anjing lain yang bernama Nula. Dia adalah anjing teman saya di Belanda. Nula adalah anjing pertama yang seliweran dideket saya dan saya bisa (mencoba untuk) tetap cool. Walaupun, keadaan fisiologis saya tidak bisa dibohongi. Dada saya beredetak lebih kencang, mata saya awas seolah akan ada bahaya yang terjadi. Tapi saat itu saya sudah cukup bangga karena ‘setidaknya sudah mencoba’ walau jangan harap saya mau menyentuh Nula.

Nah lain cerita dengan Alfie ini. Pertama kali bertemu dengan dia, detak jantung saya memang keras jadinya. Namun hanya sesaat. Setelah itu Alfie mendekatkan dirinya kesaya, saya pun dengan mudahnya kemudian berlutut agar bisa menyapanya. Kami pun saling menatap, dan OMG his puppy eyes are real. Saya pun menepuk-nepuk badan Alfie, tak lama kemudian memeluk meluk, dan… ya sudah seperti itu saja.  Rasa takut yang membentengi saya selama 21 tahun runtuh begitu sajaBahkan hari-hari selanjutnya, Alfie dan saya adalah seperti best friend yang tak terpisahkan. Sampai sekarang, bukan hanya tidak takut dengan Alfie, saya juga bisa beneran cool setiap kali harus berhadapan dengan anjing.

“Happiness is not the absence of problems, it’s the ability to deal with them.” 
― Steve MaraboliLife, the Truth, and Being Free

Hm, jadi pengen nyanyi lagunya counting crows, accidentally in love..

So she said what’s the problem baby
What’s the problem I don’t know
Well maybe I’m in love (love)
Think about it every time
I think about it
Can’t stop thinking ’bout it

How much longer will it take to cure this
Just to cure it cause I can’t ignore it if it’s love (love)
Makes me wanna turn around and face me but I don’t know nothing ’bout love

Come on, come on
Turn a little faster
Come on, come on
The world will follow after
Come on, come on
Cause everybody’s after love

So I said I’m a snowball running
Running down into the spring that’s coming all this love
Melting under blue skies
Belting out sunlight
Shimmering love

Well baby I surrender
To the strawberry ice cream
Never ever end of all this love
Well I didn’t mean to do it
But there’s no escaping your love

These lines of lightning
Mean we’re never alone,
Never alone, no, no

Come on, Come on
Move a little closer
Come on, Come on
I want to hear you whisper
Come on, Come on
Settle down inside my love

Come on, come on
Jump a little higher
Come on, come on
If you feel a little lighter
Come on, come on
We were once
Upon a time in love

We’re accidentally in love
Accidentally in love [x7]

Accidentally

I’m In Love, I’m in Love,
I’m in Love, I’m in Love,
I’m in Love, I’m in Love,
Accidentally [x2]

Come on, come on
Spin a little tighter
Come on, come on
And the world’s a little brighter
Come on, come on
Just get yourself inside her

Love …I’m in love

salam,

/katagita