Ketika Maslow Menyadarkan Saya untuk Tidak Diet Lagi

Apa sih yang membuat orang terus bergerak dan hidup? Konon adalah motivasi, motivasi inilah yang membuat kita tetap maju dan dengan lantang selalu menyanyikan “the show must go on” apapun yang sedang dan akan kita hadapi didepan.
Oleh karena itu, banyak sekali kajian tentang motivasi yang dilakukan, karena ya itu tadi, motivation keeps us alive, motivation makes us go beyond and further. Motivasi konon adalah prediktor dari setiap keberhasilan dan capaian kita. WOW.

Termasuk ketika kita mau mengatur berat badan. Perlu motivasi tinggi dan kuat, cint! Kalau tidak, yaaaa… belum-belum udah nyerah. Apalagi, buat kalian yang seneng dan hobi banget diet. Diet karbo lah, diet paleo lah, diet atkins lah, diet keto, lah. Semua butuh kedisiplinan dan juga of course, to keep itu going we need to stay motivated. Apalagi jika diet yang sedang kamu lakukan adalah hal yang sama sekali berbeda dengan perilaku makan sehari-hari kamu. Dan itu gak mudah lho. Hehehe.

Oke, kembali ke isu tentang motivasi. Jadi tidak heran jika banyak sekali teori yang membahasa tentang motivasi. DAN, berhubung yang akan saya tulis ada hubungannya dengan makan, diet, maka yang saya angkat saat ini adalah salah satu teori motivasi klasik yakni teori motivasi dari Maslow (1928) “The Hierarchy of Needs”. Kenapa teori Maslow, karena menurut Maslow, people keep motivated karena mereka berusaha memuhi kebutuhannya, yang bentuknya seperti piramida. Dimuai dari kebutuhan fisiologis sebagai dasar dari piramida kebutuhan, hingga kebutuhan untuk aktualisasi diri. Oke, buat yang belum familiar, begini gambarnya:

maslow

Nah, lantas kenapa saya bawa-bawa teori motivasi Maslow untuk membahas soal makan dan diet? Karena, pagi tadi saya seperti mendapat AHA momen (ini alasannya ga banget sih ya?, hehehe) LHO, KALAU KEBUTUHAN FISIOLOGIS DAN RASA AMAN ADALAH PONDASI KEBUTUHAN MANUSIA, BISA DIBAYANGKAN DONG, APA YANG TERJADI JIKA KEDUANYA DITEKAN?
Heh maksudnya? Ya bayangin aja, kalau diet kan artinya you are lacking of something (namely FOODS) and you feel UNSAFE dengan apa-apa yang kamu lakukan (yang masih berhubungan dengan makan), you do not allowed to eat this (WHICH ACTUALLY YOU LOVE), musti ini jam segini, musti yang begini yang boleh,…………. HALAH.
Sampai disini saja we may conclude that IT WON’T BE WORKING.
Jadi apa yang saya mau tulis disini adalah Maslow menyadarkan saya untuk: STOP DIETING.

Apakah itu kemudian berarti saya sedang meminta semuanya untuk seenak jidat dengan makan? ENGGAK. What am I going to say is: you need to change your mindset. Why? Karena membatas-batasi diri untuk gak boleh ini itu apalagi berhubungan dengan kebutuhan dasar bukanlah sesuatu yang bijak. Alih-alih diet, change your habit into something healthier. Percuma berbulan bulan kamu menahan-nahan ga makan ini ga makan itu, tapi kemudian setelah berat idaman tercapai, kamu makan seenaknya lagi. Kembali kekebiasaan yang tidak sehat lagi. Malah kasian tubuhmu dipermainkan.

Katanya, dengan usaha yang sama menghasilkan result yang beda adalah gila. Jadi, kalau kamu pensiun diet, kembali kekebiasaan lama dan mengharap hasil seperti saat diet, artinya kamu gila.

EAT WHENEVER YOU ARE HUNGRY,
EAT WHATEVER YOUR BODY NEEDS
(and yeah, body needs nutritious foods)

success-is-being-at-peace-with-yourself

(Lho, lho jadi ini tulisan maksudnya apa? Maslow gimana?

Udah ah, saya mau naek kereta dulu. Kapan –kapan dilanjut. See you in a bit!)

 

Happy weekend,

 

/katagita

Iklan

Mengamalkan Pancasila

Kemarin, 1 Juni, adalah hari lahirnya pancasila. Minggu ini juga dijadikan sebagai pekan Pancasila. Pas pula dengan isu keberagaman yang sedang dipertanyakan dinegara kita tercinta ini. Didukung dengan kemudahan dan popularitas social media, maka tagar #sayapancasila #sayaindonesia #pekanpancasila lengkap dengan unggahan foto dengan template yang sama pun marak dimana-mana. Saya pun termasuk yang ikut meramaikan, dan juga salah satu yang merasa bangga dengan Pancasila dan merasa berjiwa Pancasila.

Namun postingan Nina Moran diinstagram pribadinya membuat saya bertanya-tanya, “Oh iya ya, apa benar saya Pancasila?” jangan-jangan saya cuma ikutan trend. Nina Moran mempertanyakan hal yang sama, ini orang pada ramai-ramai mendeklarasikan  bahwa #sayaPancasila, mengapload gambar mereka berdampingan dengan Pancasila, tapi apa benar mengamalkan Pancasila itu sendiri? Menjadikan Pancasila sebagai dasar kehidupan sehari-hari?

Nah, sebagai salah seorang yang “tersentuh” (kalau ga mau dibilang tersindir, hehehe) saya pun segera menjelajah butir-butir Pancasila. Butir-butir ini sebenarnya bisa kita maknai sebagai panduan praktis ketika kita mau mengamalkan Pancasila. Ohya, butir-butir Pancasila ini sudah tidak berjumlah 36 lagi kayak waktu di SD (lah ketauan umur), namun sudah menjadi 45.

Berikut butir-butir tersebut:

Sila pertama: Ketuhanan Yang Maha EsaBangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

1.      Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

2.      Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

3.      Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

4.      Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

5.      Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.

6.      Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab

1.      Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

2.      Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

3.      Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.

4.      Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.

5.      Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.

6.      Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

7.      Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.

8.      Berani membela kebenaran dan keadilan.

9.      Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.

10.  Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

Sila ketiga: Persatuan Indonesia

1.      Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

2.      Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.

3.      Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.

4.      Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.

5.      Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

6.      Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.

7.      Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaran / perwakilan

1.      Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.

2.      Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.

3.      Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.

4.      Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.

5.      Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.

6.      Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.

7.      Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

8.      Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.

9.      Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.

10.  Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

Sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

1.      Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.

2.      Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.

3.      Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.

4.      Menghormati hak orang lain.

5.      Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.

6.      Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.

7.      Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.

8.      Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.

9.      Suka bekerja keras.

10.  Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.

11.  Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Nah, praktis sekali bukan sebenarnya, butir-butir Pancasila itu untuk kita gunakan sebagai panduan hidup kita sehari-hari? Pssst… Kalau saya masih ada PR disila 4 butir 2 (masih suka memaksakan kehendak 😀 ) dan juga sila 5 butir 7 (mentang-mentang dah bisa cari duit sendiri trus suka boros. #uhuk ). Untuk yang saya merah-merahi, waah… PR juga, tapi buat siapa? Kepercayaan itu kan sebenarnya refleksi dari bagaimana wakil yang (dulunya) kita percaya bisa dipercaya? (#uhuk juga). Hmmm,

Eniwey. Baiklah. Saya akan belajar kembali bagaimana menjiwai Pancasila dengan sesungguhnya, yakni dengan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Karena, saya masih memiliki harapan besar pada Indonesia.

Kalau sudah cinta dan mendarah daging, kadang kesel, kadang kecewa, namun tetap saja cinta. Gak bisa jauh-jauh darinya. Mau kemanapun juga, disinilah aku kembali. Indonesia, marilah kita menjadi bersama. Hidupku cuma sekali, tentu tak akan kusia-siakan ini. Bersamamu. Indonesia. 

Bagaimana dengan kamu??? 

pancasila.jpeg

#sayaPancasila #sayaIndonesia

 

salam,

/katagita

Yakin, sudah benar?

Suatu hari ibu membawa sepiring mie. Katanya, ”Nih dimakan!” Saya cuma mengangguk pelan. Yang jelas, yang saya pikirkan saat itu adalah, ”Hidih makanan apaan itu? Mie tapi warnanya abu-abu tak jelas. Memang sih, berpadu dengan irisan bawang goreng dan daun seledri  juga sambal, tapi warna dan bentuk mie-nya lho! Gak jelas! Pasti tidak enak!” (Dan terus terang saya malas memakannya).  Namun karena dilihatin ibu, saya pun megambil mie tersebut dan meyuapkannya kemulut. Memakannya.

Dan, ehm, harus diakui, rasanya jauh dari tampilannya. Mienya kenyal, enak dan gurih. Belakangan saya tau bahwa makanan tersebut bernama mie lethek. Lethek atau kotor seperti warnanya yang abu-abu tak jelas, karena mie tersebut berbahan utama dari ketela. Bukan karena basi atau beneran kotor.

Nah, sebenarnya pengalaman saya dengan mie lethek tadi pasti juga sering dialami oleh semua. Hanya dengan penilaian sekilas pertama atas sesuatu, kita pun membuat JUDGEMENT atau PENILAIAN.

Ada dua hal yang terjadi saat kita melakukan judgement atau penilaian: filtering dan inference. Saat melakukan filtering atau penyaringan, kita cenderung melihat hal yang bisa kita lihat dan ingin kita lihat saja dan mengabaikan hal-hal lain. Dengan melakukan interference atau kesimpulan, kita melengkapi informasi yang sudah kita saring tadi, yang seringnya melampaui kebenaran yang sesungguhnya (karena sebenarnya kita belum memiliki informasi yang lengkap).

Hal ini lah yang terjadi saat saya membuat penilaian soal mie yang dibawa ibu. Melihat tampilan mie saja  dan sudah menolak duluan tanpa mencoba. Untung yang memberi ibu saya, sehingga saya (walau awalnya terpaksa) pada akhirnya tidak melewatkan kesempatan menikmati makanan enak.

Jadi, membuat penilaian dengan cepat itu tidak salah, karena memang ini mekanisme umum yang terjadi untuk membantu kita lebih mudah memahami dunia. Kalau tidak, ibarat mesin, bisa-bisa kepala kita meledak karena overheat kebanyakan mikir. Namun, jika kita mengandalkan segalanya dengan judgement singkat, atau bahkan membuat keputusan atas sesutu berdasarkan penilaian yang ternyata belum tentu benar, apakah sudah bisa dibilang  tepat?

being wise.png

gambar dari sini 

Apa yang harus saya siapkan?

Melihat perkembangan dunia yang begitu cepat dan pesat, sebagai generasi muda kita mungkin tidak agak cemas juga, apalagi yang saat ini masih belum memiliki karir. Jangankan karir, mau ngapain setelah lulus sekolah saja masih bingung. Daripada kita cemas akan hal yang belum jelas, sebaiknya kita mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya saja. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan:

mindset.jpg

gambar diperoleh dari sini 

(positive) MINDSET.

Mindset adalah a set of beliefs or a way of thinking that determines one’s behaviour, outlook and mental attitude. Artinya, mindset ini akan menentukan bagaimana sikap dan  perilaku dalam menghadapi segala kesempatan dan tantangan didunia ini. Viktor Frankl, seorang professor psikologi yang pernah menjadi tawanan di kamp konsentrasi dan tetap hidup, menuliskan dalam bukunya: bahwa alih-alih dia tenggelam dalam kesengsaraan menjadi tanpa kebebasan dan penuh keterbatasan, Frankl justru fokus pada apa-apa saja yang bisa dilakukannya setiap hari: mensyukuri matahari yang terbit hari itu, membantu mereka yang lebih menderita disitu, itulah yang membuat dia terus bertahan dan hidup. Dan yang jelas seperti itulah mindset yang sebaiknya  kita miliki.

BE THE A GENERATION

Gap antara generasi itu akan selalu ada di tahun berapapun. Kebetulan saja, isu tentang generation gap menjadi mengemuka, salah satunya karena teknologi. Teknologi yang membuat kita bisa mendapatkan berbagai informasi tentang apapun, sehingga rekognisi kecil dari generasi tertentu pun bisa menjadi perhatian. Namun perlu diingat, ini bukan isu baru. Pada jaman kapanpun, sebuah organisasi akan selalu diwarnai dengan orang-orang beda generasi, benar? Oleh karena itu, salah satu kunci sukses adalah menjadi A Generation atau Adaptive Generation. Artinya, mau bagaimanapun komposisi diorganisasi atau suatu tempat, kita akan siap dan mampu beradaptasi. Setiap generasi memiliki karakteristik unik, nah kekuatan kita adalah ketika adaptif dengan semua keunikan yang ada.

generetion.jpg

gambar diperoleh dari sini 

Miliki ROLE MODEL!

Ternyata, memiliki role model atau tokoh teladan itu adalah hal yang perlu dilakukan. Kenapa? Karena dari role model tersebut kita belajar sesuatu. Melalui role model tersebut kita bisa mencontoh bagaimana filosofi hidupnya, apa kebiasaan sehari-harinya hingga bagaiman saat dia menghadapi kesulitan dan kegagalan. Jadi, miliki role model dan pilih mereka yang terbaik, ya!

KNOW YOUR SELF!

Kenali dirimu dan apa maumu. Jangan cuma ikut-ikutan! Siapa kamu? Apa yang kamu mau? Apa passion kamu? Apa tujuan hidupmu? Dengan kenal diri maka kita tau apa yang sedang dan akan kita lakukan sehingga setiap detik yang berlalu tidak hanya kesia-siaan. (to help, kalian bisa baca tulisan #serimengenaldiri disini 🙂 )

yourtime is limited

gambar didapat dari sini 

DON’T WASTE YOUR TIME!

Masih berhubungan dengan poin sebelumnya, waktu adalah harta paling berharga didunia, sehingga harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, kita harus belajar memilah mana yang memang perlu jadi perhatian kita dan mana yang tidak. Daripada sibuk cemas mikirin nanti hujan atau tidak, gimana kalau kita siapin payung saja? Artinya, daripada ngabisin waktu untuk sesuatu yang diluar kontrol kita, kenapa tidak kita lakukan apa yang bisa kita lakukan saja untuk memanimaliasir situasi yang tidak kita inginkan atau memaksimalkan situasi yang kita inginkan?

PERSISTENCE!

Pantang Menyerah! Alih-alih kita putus asa karena masalah, kenapa tidak kita belajar dan menjadi besar melalui masalah yang terjadi?

RATHER THAN SHRINKING AWAY FROM YOUR PROBLEMS,

GROW BIGGER THAN THEM

ZIG ZIGLAR

 

(Tips ini didapatkan dari Adi Pakaryanto, Head of Corporate Human Capital Triputra Group  dalam sebuah sesi dimana beliau sebagai dosen tamu di Bina Nusantara University, Jakarta)

 

Apa yang kamu yakini ketika kamu sendiri tidak dapat membuktikannya?

Saat ini saya sedang membaca sebuah buku yang berjudul The Decision Book: Fifty models for strategic thinking. Sampailah pada sebuah halaman yang menuliskan tentang the unimaginable model. Bagian ini menjelaskan bahwa memang ada hal-hal yang kita yakini namun memang tidak bisa dibuktikan, atau ditunjukkan. Apa yang saya tangkap sih bahwa kita tidak perlu berpusing-pusing. Kata Immanuel Kant: jika kita bisa membayangkannya, maka ia harus ada. Kant memang menentang empirisme dan rasionalisme.

Anyway, bukan itu yang saya mau tulis disini. Saya suka filsafat namun yang ingin saya tulis disini adalah sebuah puisi yang tiba-tiba muncul setelah membaca tentang the unimaginable model ini. Ya, puisi.

(Jadi, saya menulis soal Kant dan membawa-bawa pertanyaan filosofis supaya puisi saya tidak dianggap menye-menye, hehehehe. )

Here we go.

Cintaku salah.

Namun aku punya pembelaan.

Yang juga diamini banyak orang.

Bahwa cinta tidak bisa memilih.

Aku sudah dipilih cinta.

Dan aku pun memilih untuk mencinta.

Mencinta membuatku terus merasa.

Mencinta membuatku terus bergelora.

Dan gelora itu yang membuat aku hidup.

Aku jadi bertanya atas pernyataan pertama:

apakah cintaku salah?

Atau

Ada hal yang tidak aku tau?

Ah, putusku.

Lebih baik aku tidak tahu.

 

/ADC.

Jogjakarta, 25 Mei 2017.

Our time is limited.

Semua pasti setuju bahwa waktu kita hidup sangat terbatas. Hidup pasti akan berakhir, namun kapan kepastiannya kita tidak pernah tahu. Oleh karena itu, kita pasti setuju bahwa artinya, hidup yang hanya sebentar dan penuh misteri ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-sebaiknya. Namun pernahkan kita berpikir dan melakukan evaluasi diri, tentang penggunaan waktu kita selama ini? Kita berada di periode waktu kehidupan kita yang manakah? Sudah bijakkah kita dalam menggunakan waktu yang berharga ini?

Silakan jawab pertanyaan dibawah ini. Tenang, ini adalah pertanyaan non-judgmental. Tidak ada yang salah atau benar selama memang sesuai dengan diri anda 🙂

  1. Berapa banyak dari waktu anda yang dipakai untuk memikirkan masa lalu?

  2. Berapa banyak dari waktu anda yang dipakai untuk memikirkan saat ini dan kini?

  3. Berapa banyak dari waktu anda yang dipakai untuk memikirkan tentang masa depan?

Untuk mempermudah, silakan pikirkan jawaban atas pertanyaan berikut ini: seberapa sering anda memikirkan dan terbawa dengan ingatan tentang hal-hal yang telah terjadi? Seberapa sering anda terkoneksi, benar-benar berkonsentrasi dengan apapun yang sedang anda lakukan saat ini? Seberapa sering anda menghabiskan waktu membayangkan masa depan, dan menjadi khawatir tentang hal-hal yang mungkin akan menimpa anda?

the energy model

 

gambar dari linkedin

 

“The Energy Model” mencoba menjelaskan posisi anda saat ini, dan menetukan energy anda banyak dihabiskan untuk bagian mana dari kehidupan ini. Apakah masa lalu (memory driven), masa depan (dream driven), atau masa kini (reality driven).

Kira-kira, model mana yang paling baik? Yang jelas, ada sebuah quote yang cukup baik untuk menjadi pembelajaran kita supaya dapat menjalani hidup dengan lebih berkualitas dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

 

“You can’t change the past.

But you can ruin the present by worrying about the future.”

#serimengenaldiri #selfimprovementseries

(inspired by: Krogerus dan Tschäppeler. 2011. The Decision Book. Profile Books LTD: London. )

 

The Happiest Moment

happy

Pemusik, dokter, penulis, dan hampir semua profesi mengaku bahwa mereka merasa paling bahagia ketika sedang ”larut” dalam aktivitas yang sebenarnya cukup melelahkan (menyita energi) namun mereka benar-benar sukai. Agak mengagetkan ya, karena selama ini seolah ada pandangan bahwa saat paling menyenangkan adalah ketika kita dalam kondisi rileks. Jika memang kebahagiaan ini bisa diperoleh dari hal-hal yang biasa kita lakukan, maka kondisi yang seperti apa yang bisa membuat kita pada the happiest moment?

Pada tahun 1961, Czikszentmihalyi meneliti tentang apa sih sebenarnya kebahagiaan itu, seperti apa kondisi bahagia itu? Oleh karena itu dia mencoba meneliti tentang apa sih yang membuat orang bahagia, keadaan seperti apa yang mendatangkan kebahagiaan, dengan mewawancara ribuan orang. Dari situ dia menyimpulkan lima hal dari jawaban-jawaban yang diberikan responden yang diwawancarainya.

  1. Sangat fokus pada aktivitas yang dilakukannya,
  2. yang merupakan aktivitas yang dipilihnya sendiri,
  3. aktivitas tersebut tidak terlalu mudah namun juga tidak terlalu sulit,
  4. dengan tujuan yang jelas,
  5. ada feedback segera.

Kelima hal ini yang kemudian disebut sebagai saat kebahagiaan terjadi, atau disebut FLOW. Ketika FLOW ini terjadi, tidak hanya seseorang merasa puas, bisa-bisa mereka lupa waktu dan lupa dengan diri karena terlalu larut dengan apa yang sedang dikerjakannya. The happiest momet!

So, what is preventing you to be happy?

Do what your love and

love what you do!

 

#serimengenaldiri #selfimprovementseries